jaringberita.com - Jakarta: Tingkat literasi mengenai investasi yang semakin tinggi serta ditopang berbagai kanal informasi yang semakin mudah di media sosial, menjadi pendorong utama masuknya investor muda ke pasar modal.
Ketua Dewan Komisioner OJK Mahendra Siregar menyebut digitalisasi juga membuat transaksi efek di pasar modal semakin mudah dan terjangkau, termasuk pembukaan rekening efek yang kini dapat dilakukan melalui internet, salah satunya melalui agen penjual perusahaan teknologi finansial atau fintech.
"Tercatat generasi milenial di dunia lebih tertarik pada investasi yang berkelanjutan atau memiliki dampak positif pada sosial dan lingkungan. Berdasarkan suatu studi, generasi milenial yang berinvestasi justru lebih banyak pada investasi berkelanjutan secara proporsional dari keseluruhan portofolio mereka dibandingkan dengan generasi yang lebih tua," ungkapnya dilansir Okezone, Jumat(12/8/2022).
Dia menyebutkan, para investor yang berusia 18-36 tahun mengatakan bahwa mereka menginvestasikan rata-rata 41% dari portofolionya pada investasi berkelanjutan.
"Tentu alasan utama adalah harapan bagi investasi tadi dilakukan pada produk perusahaan-perusahaan dan lembaga yang memiliki kegiatan bisnis yang mengelola sumber daya alam (SDA) secara berkelanjutan dan memperhatikan kesejahteraan masyarakat dan dilaksanakan memenuhi prinsip good governance atau yang dikenal dengan ESG," ucapnya.
Sejauh ini, berbagai program edukasi keuangan terus dilakukan oleh OJK untuk meningkatkan kesadaran masyarakat akan produk dan layanan keuangan antara lain melalui peningkatan edukasi masyarakat dan mendorong minat investasi pada instrumen keuangan berkelanjutan.
OJK bersama self-regulatory organisations dan pelaku pasar modal senantiasa melakukan sosialisasi dan edukasi pada masyarakat dalam rangka meningkatkan literasi dan inklusi pasar modal Indonesia.
Dia mengatakan, arah strategi dalam Strategi Nasional Literasi dan Inklusi Keuangan Indonesia 2021-2025 disusun berdasarkan tiga pilar program strategis yaitu Cakap Keuangan, Sikap dan Perilaku Keuangan yang Bijak, serta Akses Keuangan.
"Menurut data survei OJK, indeks literasi dan inklusi keuangan nasional masih menunjukkan gap yang besar, yaitu indeks literasi keuangan dan keuangan nasional menunjukkan 38,03% dan 76,19%. Artinya, sekalipun indeks inklusi keuangan sudah naik tinggi menjadi 76,19%, tapi pemahaman dari mereka yang memperoleh penjelasan dalam bentuk inklusi keuangan pada gilirannya baru 38,03% yang benar-benar mengerti mengenai literasi keuangan itu sendiri," jelasnya.
Literasi dan inklusi keuangan, serta perlindungan konsumen, lanjut dia, merupakan tiga pilar dalam trilogi pemberdayaan konsumen keuangan yang memiliki korelasi erat satu sama lain.
Peningkatan pemahaman dan kemampuan seseorang dalam menentukan produk dan layanan jasa keuangan yang dibutuhkan akan meningkatkan penggunaan produk dan pemanfaatan layanan jasa keuangan oleh masyarakat.