“Tuntasnya revitalisasi di sisi udara dan sisi darat membuat Bandara Halim Perdanakusuma mampu meningkatkan standar layanan dan operasional. Ini akan menjadi daya tarik bagi maskapai,” yakin Awaluddin.
Pada 1-10 September 2022, jumlah penerbangan (take off dan landing) di Bandara Halim Perdanakusuma secara kumulatif tercatat 214 penerbangan. Dengan pergerakan penumpang mencapai 17.254 penumpang.
“Seluruh personel AP II dan stakeholder mampu menjalankan tugas dengan baik, melayani penerbangan di Bandara Halim Perdanakusuma,” ucapnya.
Nur Isnin menyatakan, AP II tetap menjadi pengelola Bandara Halim Perdanakusuma. Hal itu ditegaskannya dalam Rapat Dengar Pendapat (RDP) dengan Komisi V DPR di Jakarta, Selasa (13/9). Salah satu anggota Komisi V DPR mempertanyakan isu perubahan pengelola bandara di Jakarta Timur itu.
“Bandara Halim adalah bandar udara yang saat ini secara komersial dipegang Badan Usaha Bandar Udara (BUBU) dan sertifikat bandar udara AP II,” ucapnya.
Sementara, PT Angkasa Transportindo Selaras (ATS) merupakan pemegang pemanfaatan lahan di Bandara Halim Perdanakusuma. Maka AP II sebagai pemegang izin BUBU, melakukan perjanjian kerja sama secara komersial (business to business) dengan PT ATS di Bandara Halim.
Bagi regulator perhubungan udara, sambung Isnin, penanggung jawab tunggal pada safety dan security dari services adalah pemegang BUBU, yaitu AP II.
“Sedangkan urusan bisnis komersial dengan pemegang aset itu adalah B2B (Business to Business) antara AP II dengan PT ATS,” jelasnya lagi.
Awaluddin pun menegaskan, pada 31 Agustus 2022, pihaknya telah menandatangani perjanjian induk (Head of Agreement/HoA) untuk tetap menjalankan fungsi kebandarudaraan di Halim Perdanakusuma sebagai bandara komersial. Laman ini dikutip dari RM.id//