Jadi, sebaiknya memang penerbangan pesawat yang melayani rute terjadwal hanya Batik Air dan Citilink, mengingat keterbatasan kapasitas Bandara Halim.
“Jangan lupa, Bandara Halim utamanya untuk pesawat TNI AU dan pergerakan kepala negara atau tamu negara. Sedangkan penumpang umum itu kepentingan ketiga,” ujar Alvin.
Dengan begitu, konsekuensinya yakni, penerbangan dari dan ke Bandara Halim rentan terganggu kegiatannya. Jadi, untuk penerbangan terjadwal harus dibatasi.
“Yang saya lihat pasca-renovasi, sepertinya Bandara Halim kembali seperti dulu. Dalam artian, tak terlalu banyak pergerakan pesawat komersialnya,” tuturnya.
Sebelumnya, Menteri Perhubungan (Menhub) Budi Karya Sumadi melakukan peninjauan ke Bandara Halim Perdanakusuma, Sabtu (10/9).
BKS-sapaan Budi Karya Sumadi, meninjau hasil revitalisasi yang telah dilakukan di bandara tersebut, didampingi Pelaksana Tugas (Plt) Dirjen Perhubungan Udara Nur Isnin Istianto, Danlanud Halim Perdanakusuma Marsma TNI Bambang Gunarto dan President Director PT Angkasa Pura II (Persero) AP II Muhammad Awaluddin.
BKS memberi masukan terkait alur penumpang di terminal, agar kelancaran terus terjaga. Khususnya saat penumpang pesawat memasuki pintu masuk terminal untuk menuju area check-in.
BKS juga meminta agar seluruh fasilitas siap dan sejalan dengan dibukanya kembali bandara untuk komersial, setelah sempat ditutup beberapa waktu untuk revitalisasi. Revitalisasi oleh Kemenhub dilakukan di sisi darat (land side) dan sisi udara (air side).
“Kami lakukan revitalisasi runway yang tadinya ada masalah karena umur. Saat ini sudah terselesaikan. Dengan panjang runway 3 ribu meter, semua jenis pesawat hingga Boeing 747 dan 777 bisa mendarat ke Halim,” terang BKS dalam keterangan resminya, Senin (12/9).