jaringberita.com - Kepala Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) Hasto Wardoyo menilai bahwa pemahaman tentang stunting di masyarakat masih rendah, sehingga membutuhkan waktu dan upaya untuk mengubah pola pikir masyarakat.
"Saya menilai tentang pemahaman stunting, masih jauh. Jangankan masyarakat biasa, bupati atau wali kota saja banyak yang belum tahu tentang stunting itu seperti apa sebetulnya,” kata Hasto dilansir dari ANTARA, Selasa (18/10/2022).
Hasto mengingatkan bahwa stunting tidak sama dengan
stunded atau anak pendek, walaupun anak dengan stunting selalu memiliki perawakan pendek. Dengan demikian, anak bertubuh pendek belum tentu mengalami stunting.
"Pendek itu kan belum stunting. Karena the real stunting itu kan paling tidak, ada tiga gangguan,” katanya.
Pertama, jelas dia, anak tersebut memang pendek. Kedua, mengalami gangguan perkembangan sehingga kemampuan intelektual di bawah rata-rata. Ketiga, memiliki prognosis yang kurang baik terkait kondisi kesehatan misalnya berisiko mengalami penyakit kardiovaksular atau penyakit metabolik lain di hari tuanya.
Hasto mengatakan terdapat banyak faktor terkait stunting yang harus dikendalikan secara komprehensif. Menurut dia, sebanyak 70 persen potensi terjadinya stunting merupakan faktor jauh yang terkait sejauh mana pemahaman tentang gizi seimbang, pentingnya air bersih dan sanitasi, hingga imunisasi. Sementara sisanya, 30 persen, merupakan faktor dekat seperti ibu hamil dengan anemia.