jaringberita.com - Aktivitas Gunung Bromo di Jawa Timur mengalami peningkatan pada Sabtu (4/3/2023) setelah sebelumnya teramati sinar api pada, Jumat (3/2/2023) pukul 21.14 WIB.
Meskipun begitu, Pusat Vulkanologi Mitigasi Bencana (PVMBG) menyatakan, gunung yang memiliki ketinggian 2.329 meter di atas permukaan laut (mdpl) tersebut statusnya masih pada level II atau waspada.
"Kami mendapat tembusan laporan pers rilis terkait dengan meningkatnya aktivitas Gunung Bromo," kata Supervisor Pusat Pengendalian Operasi (Pusdalops) Penanggulangan Bencana BPBD Probolinggo Aries Setyawan, mengutip ANTARA.
Menurutnya aktivitas kawah Gunung Bromo dipantau secara visual dan instrumental dari Pos Pengamatan Gunung Api (PGA) Bromo yang berada di Dusun Cemoro Lawang, Desa Ngadisari, Kecamatan Sukapura, Kabupaten Probolinggo.
"Dalam rilis itu disebutkan bahwa bau belerang tercium kuat dari bibir kawah dan terdengar suara gemuruh. Asap kawah dalam 1 minggu terakhir teramati berwarna putih tipis hingga tebal dengan ketinggian 50-900 meter dari puncak," jelasnya.
Kemudian vegetasi pada dinding kaldera sebelah timur berwarna kuning dan mengering akibat paparan asap kawah Gunung Bromo yang berada di perbatasan Kabupaten Probolinggo, Pasuruan, dan Malang.
Ia mengatakan pengamatan kegempaan menunjukkan masih terekamnya tremor menerus dengan amplitudo 0,5 -1 mm (dominan 0,5 mm) yang disertai pula terekamnya gempa vulkanik dalam dan gempa vulkanik dangkal.
"Hal itu menunjukkan adanya proses fluktuasi tekanan di dalam tubuh Gunung Bromo yang disertai oleh aliran fluida ke permukaan," katanya.
Aries menjelaskan potensi bahaya yang bisa ditimbulkan akibat meningkatnya aktivitas kawah Gunung Bromo adalah terjadinya erupsi freatik ataupun magmatik dengan sebaran material erupsi berupa abu dan lontaran batu (pijar) yang dapat mencapai radius 1 km dari pusat kawah, serta keluarnya gas-gas berbahaya bagi kehidupan.