Vape Dinilai Berisiko Lebih Rendah Ketimbang Rokok Konvensional Berdasarkan Kajian Ilmiah


Vape Dinilai Berisiko Lebih Rendah Ketimbang Rokok Konvensional Berdasarkan Kajian Ilmiah
istockphoto
ilustrasi

jaringberita.com - Guru Besar Sekolah Farmasi Institut Teknologi Bandung (SF-ITB) Prof Dr rer nat Rahmana Emran Kartasasmita, M.Si mengatakan jika tembakau yang dipanaskan seharusnya memiliki lebih sedikit komponen zat berbahaya.

Dia menyebutkan, pihaknya sendiri juga telah melakukan kajian literatur ilmiah yang berjudul "Kajian Risiko (Risk Assessment) Produk Tobacco Heated System (THS) Berdasarkan Data dan Kajian Literatur" pada 2022 untuk menghitung perkiraan tingkat risiko produk tembakau yang dipanaskan.

"Tujuan dari kajian ini adalah untuk mencari data kualitatif dan kuantitatif terkait berbagai senyawa dalam produk tembakau yang dipanaskan dan rokok sebagai pembanding, serta penggolongan karsinogenitasnya dengan merujuk pada IARC (The International Agency for Research on Cancer atau Badan Internasional untuk Penelitian Kanker)," katanya melansir ANTARA, Selasa (28/2/2023).

Hasil kajian tersebut jelasnya, menunjukkan produk tembakau yang dipanaskan memiliki profil risiko yang lebih rendah daripada rokok. Walaupun tidak sepenuhnya bebas risiko, paparan zat berbahaya dan berpotensi berbahaya pada produk ini juga lebih rendah.

Emran menekankan pentingnya riset yang komprehensif terhadap produk tembakau alternatif untuk mengurangi misinformasi yang beredar saat ini di masyarakat dan memperkaya teks akademik supaya bermanfaat untuk pengambil kebijakan dan peneliti lain.

Sementara itu, penelitian tentang vape juga dilakukan Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Padjadjaran bertajuk “Respons Gusi Pada Pengguna Vape Saat Mengalami Peradangan Gusi Buatan (Gingivitas Experimental)", oleh Dr Amaliya, drg Ph.D, Dr drg Agus Susanto, M.Kes, Sp.Perio. (K), dan drg Jimmy Gunawan, Sp.Perio.

Penelitian ini melibatkan responden dewasa yang dibagi ke dalam tiga kelompok dengan distribusi gender tidak merata.

Kelompok pertama adalah perokok aktif dengan masa konsumsi rokok minimal satu tahun. Kelompok kedua adalah pengguna rokok elektrik yang telah beralih dari rokok dengan masa penggunaan minimal satu tahun dan kelompok terakhir adalah non-perokok atau bukan pengguna produk tembakau yang akan dijadikan sebagai acuan untuk hasil penelitian.

Hasil penelitian itu menunjukkan pengguna produk tembakau alternatif yang telah berhenti dari merokok menunjukkan perbaikan kualitas gusi yang sama seperti yang dialami oleh non perokok.

Editor
: Nata

Tag: