jaringberita.com - Kementerian Kesehatan (kemenkes) tengah fokus untuk mencegah stunting pada anak. Mengacu Data Riskesdas tahun 2018 menunjukkan ada 23% bayi lahir di Indonesia dalam keadaan stunting.
Hal inilah disampaikan Direktur Jenderal Kesehatan Masyarakat Maria Endang Sumiwi mendorong setiap orang tua, khusus ibu sejak dini mencegah agar anak terhindar dari stunting.
"Untuk balita itu sensitif bukan hanya untuk pertumbuhannya, jadi tinggi badan itu adalah akumulasi dari berbagai macam faktor pertumbuhan, kita lihatnya di tinggi badan nah karena tadi tinggi badan adalah hal menunjukkan pertumbuhan anak baik atau enggak. Jadi kita ukur stuntingnya dari tinggi badan jadi tinggi badan kalau di bawah ada kurvanya (minus 2 simpangan deviasi ukuran statistik)," ujar Endang dalam Gerakan Bumil Sehat: Generasi Tangguh Bebas Stunting disiarkan di YouTube Kemenkes dikutip dari Okezone, Selasa (3/1/2023).
Namun secara umum stunting belum dipahami oleh para orangtua, Endang pun menjelaskan jika kondisi stunting bisa dilihat dari bagaimana kondisi pertumbuhan anak. Stunting banyak faktor yang mempengaruhinya, salah satunya gizi.
"Gagal tumbuh karena seharusnya umurnya segini sudah sampai segini, ya umur berapa pertumbuhannya sudah sampai segitu. Nah apa terlalu jauh dari pertumbuhan dia yang seharusnya jadi tadi itu yang di bawah garis merah (ketentuan yang ditetapkan WHO)," jelasnya.
Lebih lanjut, disampaikan ketiga faktor penentu tersebut yaitu asupan gizi, nggak boleh sering sakit dan stimulasi anak. Faktor pertama gizi yang dikonsumsi ibu berupa protein, asam folat dan lainnya harus dipenuhi.
Kemudian, mencegah anak agar tidak kena stunting. Sebab saat kondisi anak sering sakit, maka energi atau gizi yang ada untuk proses pemulihan/ penyembuhan, dan terkahir stimulasi.
"Jadi stimulasi untuk anak itu penting sejak dalam kandungan, maupun sejak dalam kandungan maupun setelah. Jadi ketiga hal itu penting kan kita kan kita tumbuhnya itu sejak kehidupan selanjutnya kehidupan selanjutnya setiap hari," ucap Endang.