Content Creator dan Lifestyle Blogger Zilqiah Angraini mengatakan, yang patut diwaspadai dalam menggunakan aplikasi kencan daring adalah sikap kecanduan.
Di kalangan perempuan, aplikasi ini berpotensi menimbulkan gangguan mental atau salah satu bentuk penyiksaan psikologis dalam sebuah hubungan interpersonal yang kerap disebut gaslighting.
“Aplikasi ini juga bisa menimbulkan potensi pelecehan seksual secara verbal. Misal, menggunakan kata-kata sapaan yang tidak sopan. Tak menutup kemungkinan juga timbul potensi kejahatan pidana, seperti penculikan,” katanya.
Pembina Relawan TIK Sumatera Barat Yonisman mengingatkan sejumlah risiko menggunakan aplikasi kencan daring. Kebanyakan dari pengguna aplikasi tersebut tidak menyertakan identitas aslinya atau kerap menggunakan identitas palsu.
Selain itu, hubungan lewat aplikasi kencan daring tidak berlangsung lama atau terbilang singkat. Tak jarang juga aplikasi kencan ini hanya dijadikan jalan bagi pelaku kejahatan seksual untuk mencari korbannya, atau juga dipakai untuk menipu dengan tujuan menguras uang korban.
“Oleh karena itu, saran agar aman mencari relasi lewat aplikasi kencan daring adalah mencari tahu profil teman kencan di semua media sosial yang ada, jauhi profil yang mencurigakan, laporkan akun yang meresahkan, gunakan fitur Google Image untuk mengecek apakah foto yang digunakan merupakan foto asli atau bukan,” tuturnya.
Yonisman juga menambahkan, jangan banyak mengumbar informasi pribadi dalam aplikasi tersebut. Kemudian, apabila teman kencan meminta mengirimkan sejumlah uang, sebaiknya ditolak.
Mengenai rencana pertemuan, seperti dilansirdari RM.id, sebaiknya tidak dilakukan di rumah atau di kantor tempat kerja. Adapun webinar digelar oleh Kementerian Komunikasi dan Informatika bersama Gerakan Nasional Literasi Digital (GNLD) Siberkreasi.
Dengan hadirnya program ini diharapkan dapat mendorong masyarakat menggunakan internet secara cerdas, positif, kreatif, dan produktif.