Setelah Jepang, Kini Giliran Singapura Alami Resesi Seks


Setelah Jepang, Kini Giliran Singapura Alami Resesi Seks
istockphoto
ilustrasi

jaringberita.com - Setelah Jepang, fenomena resesi seks kini mulai menjangkit Singapura. Hal ini terlihat, dari tingkat fertilitas paling rendah yang terjadi sepanjang sejarah di negera tersebut.

Tingkat fertilitas adalah data yang menggambarkan jumlah anak yang dimiliki oleh tiap perempuan di satu wilayah. Angka ini didapatkan dari pembagian antara jumlah kelahiran dengan jumlah populasi perempuan.

Melansir CNBC, Sabtu (25/2/2023), di Singapura, tingkat fertilitas merosot ke angka terendah sepanjang sejarah. Tingkat fertilitas Singapura sepanjang 2022 adalah 1,05, lebih rendah dari rekor terendah sebelumnya yaitu 1,1 pada 2020.

Menteri di Kantor Perdana Menteri Singapura, Indranee Rajah seperti dikutip dari Channel News Asia mengatakan, salah satu penyebabnya adalah tahun Macan di kalender Imlek, yang secara umum diasosiasikan dengan rendahnya tingkat kelahiran di antara (etnis) Tionghoa.

Pada 2010, yang juga merupakan tahun Macan, tingkat fertilitas total adalah 1,15. Angka ini lebih rendah dari tahun sebelumnya dan tahun setelahnya.

Indranee menjelaskan bahwa tingkat fertilitas Singapura sudah bertahun-tahun merosot, seperti negara maju lainnya.

Tingkat fertilitas Singapura selalu berada di bawah 1,2 sejak 2017. Negara dengan tingkat fertilitas terendah saat ini adalah Korea Selatan, yaitu 0,78.

Indranee mengatakan bahwa makin banyak penduduk Singapura menikah di usia lebih tua. Selain itu, pasangan yang sudah menikah juga makin banyak yang memutuskan untuk menunda memiliki anak atau memiliki anak lebih sedikit.

Ekspektasi hidup penduduk Singapura kini mencapai 83 tahun, dibanding 72 tahun pada 1980. Sekitar 1 dari 4 penduduk Singapura akan berusia 65 tahun atau lebih tua pada 2030.

Perubahan situasi masyarakat ini, menurut Indranee, bakal mempersulit upaya Singapura untuk mempertahankan laju pertumbuhan ekonomi.

Editor
: Nata

Tag: