Karena itulah, NASA percaya diri menyatakan pembacaan satelit mereka tidak anomali dan didukung oleh penemuan di lapangan.
Di sisi lain, Jonathan Overpeck, ilmuwan iklim dari University of Michigan mengakui hasil riset NASA ini patut dikhawatirkan.
"Penemuan NASA terlihat kukuh dan itu tidak mengejutkan. Kita tahu peningkatan permukaan air laut semakin cepat dan kita tahu alasannya," kata Overpeck.
"Lebih dan lebih banyak es di kutub mencair dan itu inilah penyebab pelebaran samudra karena mereka menghangat. Sudah jelas, peningkatan air laut akan semakin memburuk jika kita membiarkan perubahan iklim berlanjut," katanya menambahkan.
Hal serupa dinyatakan David Holland, ilmuwan iklim dan profesor matematika dari New York University. Menurutnya, kualitas data dari NASA "menakjubkan sehingga penemuan ini bisa dipercaya," kata Holland.
"Studi ini menunjukkan bahwa permukaan laut global sedang meningkat dan lebih dari itu, peningkatannya semakin cepat. Proyeksi peningkatan di pantai teluk ada di sekitar 1 kaki pada 2050 dan itu luar biasa. Itu bisa membuat topan badai meningkat bahkan lebih buruk," ujarnya.
Hasil studi NASA terhadap sejumlah kota di AS ini mirip dengan hasil penelitian terhadap kondisi Jakarta. Menurut sejumlah pakar dalam negeri hal itu bisa terjadi akibat penurunan muka tanah yang disebabkan oleh eksploitasi air tanah yang tak terkendali, serta perubahan iklim.
Selain itu, faktor kenaikan muka air laut juga diperkirakan bisa memicu sebagian wilayah Jakarta tenggelam pada 2050.
Menurut peta prediksi yang diunggah di situs Climate Central, wilayah Jakarta yang diperkirakan akan tenggelam meliputi Jakarta Barat, Jakarta Utara, Jakarta Pusat, dan Jakarta Timur.
Wilayah Jakarta yang diperkirakan tenggelam pada 2050 mendatang itu terbentang dari Pantai Indah Kapuk, Ancol, Kalideres, Harmoni, Gambir, Kemayoran, Sunter, Kelapa Gading, Cilincing, Pulogadung hingga Cakung.