Acara online yang digelar panitia, antara lain tablig akbar bersama Ustaz Abdullah Gymnastiar, Ustaz Adi Hidayat, lelang sepeda Brompton edisi Merah Putih yang disumbangkan langsung CEO Brompton Will Butler-Adams, Wakaf Mozaik, dan Wakaf Gotong Royong. Selain itu, ada acara bersepeda untuk masjid Indonesia dan penggalangan dana melalui platform Kita Bisa.
“Yang membuat kami terharu adalah banyak sekali donatur yang menyumbang mulai dari ribuan hingga jutaan rupiah. Dari yang nilainya kecil sampai besar. Tetapi selalu ada tambahan doa. Misalnya, ‘Kami menyumbang Rp 10.000. Semoga segera terwujud, semoga suatu saat nanti bisa mampir di masjid ini’,” kisah Memet.
Sumbangan dan doa tersebut berasal dari Aceh hingga ke Papua, juga dari sejumlah negara. Jumlahnya sangat banyak.
“Ini membuat kami terharu dan membuat kami makin termotivasi untuk menyegerakan pendirian masjid,” imbuhnya.
Hingga pertengahan 2022, panitia memiliki dana sekitar 1,7 juta poundsterling atau sekitar Rp 32,3 miliar. Pencarian bangunan untuk menjadi masjid Indonesia pun makin intens. Ada beberapa bangunan yang diincar, tetapi pembelian gagal dituntaskan karena kalah penawaran.
“Memang tidak mudah dan banyak liku-likunya. Alhamdulillah kami akhirnya bisa mendapatkan masjid yang di Neasden ini,” kata Berry Natalegawa, anggota panitia yang bertanggung jawab untuk mendapatkan properti.
Ia menjelaskan, bangunan yang akhirnya dibeli ini sangat ideal. “Bangunan sudah memiliki izin untuk menjadi pusat kegiatan keagamaan. Tidak jauh dari pusat kota, dan mudah dijangkau dengan moda transportasi oleh masyarakat yang tersebar di berbagai penjuru di Kota London,” kata Berry.
Pada akhir November 2022, beberapa pengurus yayasan IIC menandatangani dokumen jual beli bangunan senilai 1,44 juta poundsterling atau sekitar Rp 27,2 miliar.
“Masih ada dana sekitar 350.000 poundsterling di kas yang akan dimanfaatkan untuk merenovasi, sehingga nantinya terlihat dan terasa seperti masjid yang sebenarnya,” kata Eko.
Memet menambahkan, “Kami ingin masjid ini menjadi representasi Muslim Indonesia yang teduh, yang moderat di kota kosmolitan seperti London.”
Acara syukuran juga dihadiri Duta Besar (Dubes) Indonesia untuk Inggris Raya, Irlandia, dan Organisasi Maritim Internasional, Desra Percaya, yang terlibat penuh dalam proses pendirian masjid sejak menjabat sebagai orang nomor satu di perwakilan RI di London.
Dalam sambutannya, Desra memberikan apresiasi dan penghargaan setinggi-tingginya kepada IIC, panitia pembangunan masjid, dan seluruh warga Indonesia di Inggris yang bekerja bersama-sama dengan ikhlas dan sabar.
“Pada akhirnya kesabaran ini memberikan hasil yang menggembirakan dengan berdirinya masjid Indonesia pertama di London,” kata Desra.
Ia juga mengingatkan kepada IIC, untuk membuat tata kelola yang baik, agar masjid ini dapat memberikan manfaat sebesar-besarnya untuk kepentingan umat.
Bagi warga London, Elvi Ibrahim, momen syukuran patut dirayakan karena menandai kerja keras masyarakat Indonesia sejak tahun 1990-an.
“Saat itu, kami dan beberapa warga Indonesia lain memulai penggalangan dana untuk mendirikan masjid Indonesia. Perjalanan yang sungguh panjang. Hampir 30 tahun, yang berawal dari penggalangan dana kecil-kecilan pada satu bulan Ramadan saat shalat Tarawih pada 1990-an. Alhamdulillah sekarang bisa terwujud,” kata Elvi.
Pembenahan langsung dilakukan, begitu kunci gedung didapat, menyusul serah terima kontrak jual beli pada akhir November.
Yang tampak mencolok tentu saja bangunan bercat putih di ujung Clifford Way, North London, yang kosong selama beberapa tahun terakhir, terlihat jauh lebih semarak. Lampu terang menyala pada malam hari dan terdengar suara azan dari aula utama.