Sam Baron, Associate Professor Filsafat Sains di Universitas Katolik Australia, menilai hal tersebut tidak sesederhana yang dibayangkan akibat tiga masalah. Pertama, kita hanya bisa berjalan ke masa lalu si lubang hitam tersebut.
Itu artinya, jika sebuah lubang hitam muncul misalkan setelah dinosaurus punah, kita tidak dapat pergi ke masa yang lebih jauh daripada itu.
Kedua, kita mungkin harus melintasi apa yang disebut horizon peristiwa (event horizon) atau permukaan lubang hitam.
Event horizon adalah jarak tertentu dari singularitas yang merupakan titik kepadatan abadi yang membuat sebuah obyek tidak dapat keluar jika jatuh ke dalamnya.
Untuk bisa melepaskan diri dari event horizon dan singularitas, Baron menyebut sesuatu harus bisa melaju lebih cepat dari cahaya. Sayangnya, hal tersebut tidaklah mungkin.
Ketiga, pesawat dan diri kita bisa saja mengalami proses 'spaghettification' alias merenggang seperti mi. Yang ekstrem, pesawat dan diri kita bisa merenggang hingga membuat kita berubah menjadi atom yang mengambang di kehampaan.
"Saat Anda melintasi horizon peristiwa, Anda akan terbentang rata, seperti mi. Nyatanya, Anda mungkin akan diregangkan begitu tipis sehingga Anda hanya akan menjadi untaian atom yang berputar ke dalam kehampaan," tutur Baron.
"Jadi, meskipun menyenangkan untuk memikirkan sifat-sifat lubang hitam yang membengkokkan waktu, di masa depan kunjungan ke era dinosaurus harus tetap berada di alam fantasi," tandasnya.