Kedua belah pihak berdiri di sisi yang berlawanan dan terlibat dalam perang proksi di banyak zona konflik di Timur Tengah.
Di Yaman, dengan perang yang kini memasuki tahun kedelapan, pemberontak Houthi didukung oleh Teheran. Sementara Riyadh memimpin koalisi militer untuk mendukung pemerintah.
Sejak 2021, pembicaraan telah diadakan antara kedua pejabat di Irak dan Oman tetapi tidak ada kesepakatan yang dicapai.
Robert Mogielnicki, sarjana residen senior di Institut Negara Teluk Arab di Washington, DC, mengatakan kepada Al Jazeera bahwa kesepakatan yang ditengahi adalah bukti kehadiran China yang meningkat dan minatnya yang meningkat untuk memainkan peran di wilayah tersebut.
Mogielnicki mengatakan China dalam posisi yang baik untuk menengahi kesepakatan karena Amerika Serikat tidak memiliki hubungan baik dengan Iran.
"Ini adalah aktivitas yang relatif berisiko rendah dan bernilai tinggi bagi China untuk terlibat karena China tidak berkomitmen pada hasil tertentu," kata Mogielnicki, dikutip dari Al-Jazeera, Sabtu (11/3/2023).
"Hubungan diplomatik yang lebih baik antara Arab Saudi dan Iran akan mengurangi kemungkinan konflik regional dan akan mengurangi ketegangan regional. Itu hal yang baik untuk China, untuk AS dan juga untuk aktor regional."
Sina Toossi, rekan senior non-residen di Pusat Kebijakan Internasional di Washington, DC, mengatakan bahwa China memiliki kepentingan yang jelas dalam meningkatkan hubungan dan stabilitas di kawasan. Sebab, Teluk merupakan sumber energi vital bagi Beijing, yang mengimpor energi dari Iran dan Arab Saudi.
Pada 2019, ketika fasilitas minyak Saudi menjadi sasaran Houthi, hal itu untuk sementara memengaruhi produksi minyak negara itu, yang menyebabkan kenaikan harga minyak global lebih dari 14 persen selama akhir pekan, lonjakan terbesar dalam lebih dari satu dekade.
Toossi menilai hal ini adalah skenario terburuk bagi China. Bahwa konflik di Teluk Persia akan memengaruhi pasokan energi dan kepentingan ekonominya.