jaringberita.com - Kabar rujuknya
Iran dan
Arab Saudi yang sudah lama bersitegang membuat kaget negara global.
Namun ternyata, ada peran China dalam upaya menengahi kesepakatan antara Iran dan Arab Saudi yang dinilai para analis sebagai tanda yang lebih dari sekadar 'tatanan global yang berubah'.
Melansir CNBC, Minggu (11/3/2023), selama dialog yang berlangsung di Beijing pada Jumat (10/3/2023), Arab Saudi dan Iran sepakat untuk membangun kembali hubungan diplomatik dan membuka kembali kedutaan mereka dalam waktu dua bulan.
Perjanjian tersebut juga menetapkan penegasan adanya penghormatan terhadap kedaulatan negara dan bukan campur tangan dalam urusan internal negara.
Twitter resmi pemerintah Iran mengunggah gambar dan video berisi sekretaris Dewan Keamanan Nasional Tertinggi Iran Ali Shamkhani berjabat tangan dengan penasihat keamanan nasional Saudi Musaad bin Mohammed al-Aiban, dengan diplomat paling senior China Wang Yi, berdiri di antara mereka.
Peran China sebagai mediator dalam menyelesaikan masalah lama antara musuh regional belum diumumkan sebelum pengumuman ini.
Wang dilaporkan mengatakan bahwa China akan terus memainkan peran konstruktif dalam menangani masalah hotspot dan menunjukkan tanggung jawab sebagai negara besar. Dia menambahkan bahwa China sebagai mediator yang beritikad baik dan dapat diandalkan, telah memenuhi tugasnya sebagai tuan rumah dialog.
Adapun, konflik geopolitik antara keduanya sudah berlangsung puluhan tahun. Pada tahun 2016, kedua negara Teluk itu memutuskan hubungan ketika Arab Saudi mengeksekusi seorang cendekiawan Muslim Syiah terkemuka. Hal ini memicu protes di Iran dengan pengunjuk rasa menyerang kedutaannya di Teheran.