400 Juta Data User Twitter Diduga Bocor, Hacker Todong Elon Musk Rp4,3 Triliun


400 Juta Data User Twitter Diduga Bocor, Hacker Todong Elon Musk Rp4,3 Triliun
Net
Elon Musk

jaringberita.com - Perusahaan intelijen kejahatan dunia maya, Hudson Rock mengungkapkan grup peretas atas nama Ryushi diduga menjual 400 juta data user (pengguna) pelanggan Twitter yang berisi informasi pribadi, seperti alamat email pribadi dan nomor telepon pengguna.


"BREAKING: Hudson Rock menemukan aktor ancaman yang kredibel menjual 400.000.000 data pengguna Twitter," tulis Akun Twitter Hudson Rock.

Dalam postingan itu, beberapa nama besar yang datanya diduga bocor, termasuk mantan Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump, Pendiri Ethereum,Vitalik Buterin, Bintang Shark Tank Kevin O'Leary, dan sebagainya.

Dikutip dari Instagram Heloinvestasi.id, menurut Hudson, peretas mengklaim data tersebut diperoleh awal tahun ini melalui kerentanan Twitter. Hudson belum bisa memverifikasi klaim peretas terkait 400 juta data itu. Namun, hasil verifikasi sebagian, data tersebut benar milik pengguna Twitter.

Perusahaan keamanan Web3, DeFiYield juga memverifikasi secara manual 1.000 sampel yang tersedia, di mana hasilnya data itu valid. DeFiYield juga telah berkomunikasi dengan peretas melalui Telegram dan menyebut mereka sedang menunggu pembeli.

Dalam pengumuman Ryushi di situs Breached, peretas juga meminta CEO Twitter, Elon Musk membayar $276 juta (Rp4,3 triliun) untuk menghindari penjualan data dan penalti dari Badan Regulasi Perlindungan Data Umum (GDPR).

"Twitter atau Elon Musk, jika Anda membaca ini, Anda sudah mempertaruhkan denda GDPR lebih dari 5,4 juta pencitraan denda jika 400 juta pengguna melanggar. Pilihan terbaik Anda untuk menghindari pembayaran $276 juta USD…," Pengumuman Peretas Ryushi.

Peretas menegaskan penjualan data kepada orang lain akan membuat selebriti dan politisi mengalami phishing, penipuan crypto, dan sebagainya. Namun, jika Elon Musk bersedia membayar, peretas berjanji akan menghapus dan tidak akan dijual data-data tersebut kepada siapapun.

Di sisi lain, jika klaim data 400 juta pengguna Twitter itu benar, maka peretasan Twitter ini bisa menjadi peretasan terbesar mengingat platform jejaring sosial ini memiliki 450 juta pengguna aktif bulanan.

Editor
: Nata

Tag: