Harga CPO Terdongkrak Ekonomi China, Petani Sawit pun Senang


Harga CPO Terdongkrak Ekonomi China, Petani Sawit pun Senang
istockphoto
Ilustrasi

jaringberita.com - Data NBS manufacturing purchasing manager index (PMI) China, belakangan merealisasikan besaran index yang mengalami peningkatan menjadi 52.6 dari posisi sebelumnya 50.1 di bulan Januari.

Indeks tesebut dihitung berdasarkan pemesanan baru untuk barang, output perusahaan, ketenagakerjaan, waktu pengiriman barang ke supplier dan pasokan untuk jumlah item barang yang dibeli.

Pengamat Ekonomi Sumatera Utara (Sumut) Gunawan Benjamin mengatakan, sejak China tidak memberlakukan lagi kebijakan pengetatan aktivitas masyarakatnya (lockdown), ekonomi negara tersebut mulai mengalami pemulihan, sehingga akselerasi permintaan barang dari China juga mengalami kenaikan.

"Sumut tentunya diuntungkan, karena ekspor ke China mengalami peningkatan. Mengingat secara kuantitas China masih menjadi negara tujuan ekspor Sumut," ungkapnya, Jumat (3/3/2023).

Gunawan menjelaskan, harga CPO dalam sebulan terakhir ini bahkan terpantau mengalami kenaikan yang cukup signifikan. Dari kisaran harga 3.800 menjadi 4.300 ringgit Malaysia per ton nya.

"Kenaikan ini tentunya akan menjadi kabar baik bagi masyarakat khususnya petani di wilayah sumatera utara. Karena dari kenaikan harga CPO tersebut, harga TBS di tingkat petani sangat berpeluang untuk mengalami kenaikan," jelasnya.

Menurut Gunawan, kenaikan harga CPO tersebut juga nantinya akan mendorong margin atau keuntungan petani sawit gang nantinya akan menjadi salah satu motor penggerak uang beredar di wilayah Sumut.

"Kita harapkan harga CPO mampu bergerak dalam tren naik nantinya. Karena sawit sangat potensial dalam menggerakkan perekonomian di wilayah Sumatera Utara," ujarnya.

Gunawan menuturkan, perlambatan kinerja ekonomi di wilayah Sumut bisa terkikis jika kinerja harga sawit mampu mengalami pemulihan secara berkesinambungan. Akan tetapi harapan tersebut masih belum begitu kuat indikasinya sejauh ini.

"Sekalipun ada potensi dimana geliat ekonomi China akan potensial mendorong pemulihan kinerja ekonomi di wilayah Sumut," ujarnya.

Disisi lain, tambahnya, tren kenaikan bunga acuan di banyak Bank Sentral di dunia juga sangat berpeluang menjadi pemicu memburuknya kinerja ekonomi nasional khususnya Sumut. Karena di satu sisi pertumbuhan ekonomi bisa didorong seiring pemulihan harga komoditas.

"Akan tetapi disisi lainnya justru mendorong tingginya laju tekanan inflasi yang nantinya akan bermuara pada pembentukan kinerja ekonomi yang kurang berkualitas," pungkasnya.

Editor
: Nata

Tag: