jaringberita.com -
Setelah
melewati
pekan
yang
penuh
drama
akibat
kenaikan
bung
acuan
The
FED
atau
bank
sentral
AS
sebelumnya,
maka
sepekan
ke
depan
pasar
diyakini
tidak
akan
banyak
dipengaruhi
oleh
agenda
ekonomi
besar.
Pengamat Ekonomi Sumatera Utara (Sumut) Gunawan Benjamin mengatakan, karenanya, pasar berpeluang akan bergerak mendatar namun dengan kecenderungan menguat.
"Akan tetapi pelaku pasar harus terus memantau perkembangan krisis perbankan dan perang di Ukraina, mengingat sentimen tersebut sangat berpeluang memberikan kejutan bagi pasar keuangan secara tiba tiba," ungkapnya, Senin (27/3/2023).
Gunawan menjelaskan, kabar kebangkrutan bank di belahan negara barat perlu dicermati lebih hati hati. Karena dampak sistemiknya masih menjadi ancaman bagi pasar keuangan di dunia.
Selain itu, krisis perbankan yang telah menyeret terjadinya penurunan pada harga komoditas dunia, juga akan sangat mempengaruhi kinerja emiten di pasar saham, terlebih yang banyak mengandalkan komoditas.
Gunawan menyebutkan, IHSG pun diperkirakan akan bergerak menguat dengan mencoba untuk menembus level psikologis 6.800. Meksipun disisi lain masih juga berpeluang untuk terkoreksi meskipun terbatas.
"IHSG kalaupun terkoreksi akan berada dikisaran 6.730 terlebih dahulu. Dan saham saham sektoral seperti sahan berbasis perkebunan layak untuk dihindari seiring dengan penurunan harga komoditas dunia seperti CPO," jelasnya.
Sedangkan untuk kinerja mata uang Rupiah, diperkirakan akan bergerak dalam rentang 15.100 hingga 15.250 per US Dolar. Karena menurutnya, Rupiah sedikit diuntungkan dengan sikap dovish bank sentral AS, setelah kebangkrutan yang melanda sejumlah perbankan di AS.