Era Bunga Kredit Tinggi, Himbara Wait And See


Era Bunga Kredit Tinggi, Himbara Wait And See

jaringberita.com -Secara berturut-turut, Bank Indonesia (BI) dalam dua kali Rapat Dewan Gubernur (RDG) BI menaikkan BI 7-Day Reverse Repo Rate (repo rate) hingga menyentuh 4,25 persen pada September 2022, dari level terendahnya di angka 3,5 persen.Kenaikan bunga acuan BI ini dipastikan akan langsung berimbas kepada kenaikan suku bunga kredit perbankan.

Kendati begitu, sebenarnya kondisi ini tidak hanya berlaku di dalam negeri. Karena era bunga tinggi juga terjadi secara global. Tak heran, hal tersebut dikhawatirkan bakal mengganggu target penyaluran kredit hingga ekonomi nasional.

Direktur Riset (Center of Reform on Economics) Core Indonesia Piter Abdullah mengatakan, kenaikan suku bunga acuan sesungguhnya tidak perlu dikhawatirkan akan berdampak besar menghambat pertumbuhan ekonomi.

“Pertama, suku bunga acuan BI walaupun naik, masih dalam level rendah bila dibandingkan historisnya. Kedua, kenaikan ini tidak banyak mengubah suku bunga kredit,” tegas Piter.

Dikatakan Piter, selama ini suku bunga kredit memang tidak banyak turun ketika suku bunga acuan BI turun hingga level terendah 3,5 persen.

Dampaknya, perbankan akan mengikuti kebijakan baru dengan kenaikan suku bunga. Tapi perlu diingat, posisi likuiditas perbankan sekarang ini masih berlimpah, meski tidak merata. Sehingga perbankan kecil dengan likuiditas menipis, sudah pasti akan mengerek bunga kredit.

“Kenaikan suku bunga DPK (Dana Pihak Ketiga) serta kredit diperkirakan akan berawal dari bank kecil,” sebut Piter.

Dia menggarisbawahi, dalam menaikkan suku bunga simpanan dan pinjaman, perbankan cenderung melihat pada kenaikan suku bunga acuan. Adapun tingkat bunga penjaminan menjadi salah satu faktor tambahan.

Namun, salah satu strategi atau upaya agar bank tetap efisien dengan sebanyak-banyaknya mengumpulkan CASA (Current Account Saving Account). CASA merupakan jenis DPK dengan bunga yang sangat rendah mendekati nol persen.

Artinya, sambung Piter, semakin besar CASA maka akan kian kecil juga biaya dana atau cost of fund (CoF). Sehingga bank diharapkan bisa menyalurkan kredit dengan bunga yang rendah tetapi, tetap mendapatkan spread atau keuntungan yang memadai.

“Bahkan jika ingin lebih kompetitif dalam menyalurkan kredit, bank juga harus mampu merebut dana masyarakat atau memupuk CASA yang tinggi dengan CoF yang rendah,” ujar Piter.

Menyoal ini, beberapa anggota Himpunan Bank Milik Negara (Himbara) mengaku masih memantau kondisi alias wait and see.

Misalnya saja PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk, yang mengaku belum mau menaikkan suku bunga kredit perseroan lantaran kondisi likuiditas BRI masih memadai.

Corporate Secretary BRI Aestika Oryza Gunarto mengatakan, BRI saat ini masih belum menaikkan suku bunga seluruh segmen pinjaman BRI. Termasuk bunga Kredit Pemilikan Rumah (KPR).

Namun ke depannya, dia bilang, BRI akan melakukan penyesuaian suku bunga kredit untuk merespons kenaikan suku bunga acuan BI.

Yang pasti, sebut Aestika, likuiditas BRI masih memadai dengan rasio pinjaman dan simpanan (Loan to Deposit Ratio/LDR) BRI konsolidasian pada akhir kuartal II-2022 sebesar 88,5 persen.

BRI tentu akan melakukan penyesuaian suku bunga, namun secara teknis, penyesuaian suku bunga kredit tidak bisa dilakukan serta-merta begitu suku bunga acuan berubah,” jelasnya.

Aestika menyakinkan, BRI tetap optimistis mencapai target pertumbuhan kredit di level 9-11 persen hingga akhir tahun.

BRI juga tidak merevisi pertumbuhan kredit yang ditetapkan pada awal tahun. Khusus untuk penyaluran kredit kepada segmen UMKM, kami proyeksikan akan terus tumbuh dengan main driver pada segmen ultra mikro dan mikro,” ucap Aestika.

Senada, Corporate Secretary PT Bank Mandiri (Persero) Tbk Rudi As Aturridha bilang, untuk menaikkan suku bunga kredit, Bank Mandiri masih akan memantau beberapa indikator penentu bunga kredit. Ini agar besaran bunga kredit yang ditawarkan tetap kompetitif.

“Ke depannya, kami akan terus memantau perkembangan suku bunga acuan, posisi likuiditas, dan kompetisi di pasar, agar rate yang kami berikan ke nasabah tetap kompetitif,” ujar Rudi dalam keterangan tertulis, Kamis (29/9).

Rudi menegaskan, penyesuaian kredit Bank Mandiri, mempertimbangkan perkiraan perbankan nasional yang akan menaikkan suku bunga kredit dalam 3-6 bulan ke depan, likuiditas pasar, serta struktur CoF untuk suku bunga dana.

Sebelumnya, Gubernur BI Perry Warjiyo mengatakan, keputusan kenaikan suku bunga sebagai langkah pencegahan sekaligus forward looking, untuk menurunkan ekspektasi inflasi dan memastikan inflasi inti kembali ke sasaran 2 persen-4 persen pada paruh kedua 2023.

“Kenaikan suku bunga acuan, juga mempertimbangkan langkah untuk memperkuat kebijakan stabilisasi nilai tukar rupiah di tengah tingginya ketidakpastian pasar keuangan global,” ucap Perry.


Tag: