jaringberita.com - Kondisi banjir melanda Aceh Utara dalam tiga hari terakhir semakin parah, setidaknya 40 ribu jiwa dan seorang meninggal saat di evakuasi hingga Kamis malam. Sejak banjir hari pertama, Selasa (4/10), banjir merendam dua kecamatan, Pirak Timu dan Matangkuli.
Selanjutnya, pada Rabu (5/10) banjir meluas merendam tujuh kecamatan.Kemudian pada hari ketiga, Kamis (6/10) hingga saat ini, banjir mulai merendam 134 desa dari 12 kecamatan.
Dari berbagai sumber, banjir yang terjadi kali ini disebabkan jebolnya tanggul sungai dan meluapnya air sejumlah sungai setelah kawasan itu diguyur hujan deras dalam sepekan terakhir.
Tanggul pertama jebol di Desa Buloh Kecamatan Lhoksukon, kemudian di Desa Madan, Kecamatan Madan, pada Rabu (5/10). Sedangkan kemarin tanggul jebol juga terjadi di Desa Mancang, Kecamatan Lhoksukon, Aceh Utara. Derasnya air yang mengalir setelah jebol tanggul tersebut menyebabkan empat rumah warga rusak.
Namun, saat ini pihak Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Aceh Utara sedang melakukan pendataan terhadap nama korban dan juga tingkat kerusakan rumah tersebut.
Selain itu, petugas BPBD juga berupaya menjangkau lokasi untuk menjemput warga agar tidak terjebak banjir. Banjir pada hari ketiga juga sudah merendam jalan nasional kawasan Desa Kuta Lhoksukon, Kecamatan Lhoksukon dengan ketinggian air setinggi lutut orang dewasa. Sedangkan di dalam rumah warga ketinggian air bervariasi, tapi sudah mencapai 1,5 meter lebih di lokasi tertentu.
Kabid Pencegahan dan Kesiapsiagaan, Mulyadi, menjelaskan sebanyak 12 desa yang terendam banjir hingga Kamis malam adalah Kecamatan Pirak Timu, Lhoksukon, Tanah Luas, Samudera, Cot Girek, Matangkuli, Muara Batu, Nisam, Geureudong Pase, Langkahan, Dewantara, dan Paya Bakong dengan jumlah korban mengungsi mencapai 39.796 jiwa dari 11.628 Kepala Keluarga yang tersebar di 51 titik.