jaringberita.com -Antisipasi kunjungan wisata ke kawasan wisata rawan
bencanabanjir dan longsor di kawasan wisata Sembahe, Pascasarjana Kesehatan Masyarakat Universitas Sari Mutara (USM) Indonesia menggelarFocus Group Discussion (FGD) Kegiatan Pemberdayaan Masyarakat sebagai lanjutan dari FGD Pengurangan Risiko Bencan yang digelar beberapa waktu lalu di Kampus USM Indonesia.
FGD Evaluasi Kegiatan Pemberdayaan Masyarakat Dalam Meningkatkan Kesiapsiagaan Masyarakat di Kawasan Wisata Sembahe digelar, Senin (26/6/2023) di kawasan wisata Sembahe dan dihdiri berbagai elemen dan stakeholder yang berhubungan erat dengan penanganan kebencanaan.
Hadir dalam diskusi tersebut, Kepala BBMKG Wilayah I Medan, Hendro Nugroho, Rektor USM Indonesia Dr. Ivan Elisabeth Purba, M.Kes, Kepala PPMBG, Kalaksa BPBD Kabupaten Deli Serdang, Camat Sibolangit Hesron T Girang, Ketua FPRB Sumatera Utara H Bahdin Nur Tanjung, Kepala Desa Kawasan Sembahe (Desa Tambunan, Desa Durin Serugun, Desa Sembahe), Satgas BPBD Kabupaten Deli Serdang, Ka. Pusat Studi Kebencanaan dan Lingkungan Hidup, Ka. Prodi Magister Kesehatan Masyarakat USM Indonesia, tokoh masyarakat, pengusaha Wisata Alam Peken Tebu, Mari Pro, dan Ceper serta dosen USM-Indonesia.
Dalam diskusi tersebut disampaikan beberapa upaya yang bisa dimanfaatkan untuk mengurangi dampak bencana, seperti disampaikan Kepala BBMKG Wilayah I Medan bahwa upaya pengurangan risiko bencana melalui pembangunan sistem layanan informasi meteorologi, klimatologi, dan geofisika berbasis teknologi informasi diharapkan dapat memberikan tambahan solusi dan informasi bagi masyarakat dalam mengantisipasi dampak bencana.
"Masayarakat bisa lebih dini mengetahui kondisi cuaca atau potensi terjadinya bencana dengan memanfaatkan aplikasi berbasis android info BMKG yang bisa diakses dimana saja dan kapan saja," kata Kepala BBMKG Wilayah I Medan Hendro Nugroho.
Rektor USM Indonesia Ivan Elisabeth Purba menyampaikan bahwa masyarakat di kawasan wisata alam yang sangat rentan dengan bencana sudah banyak mendapatkan edukasi dan sosialisasi dalam mengurangi risiko bencana. Permasalahan yang dihadapi di lapangan adalah masyarakat pengunjung kawasan wisata terkadang kurang memahami seruan atau peringatan yang disampaikan dalam mengantisipasi bencana dan dampaknya.
"Sosialisasi yang kita lakukan di Sembahe, masyarakat pengelola kawasan wiata kita sarankan untuk menggunakan potensi yang ada, contohnya adalah bambu.Dimana, di daerah ini banyak ditemukan tanaman bambu. Selain sebagai taaman penyangga, bambu juga bisa dimanfaatka sebagai kentungan (alat peringatan) tanda akan ada bencana seperti banjir bandang atau longsor," kata Ivan Elisabeth Purba.
Bencana banjir yang terjadi beberapa waktu lalu di Sembahe, lanjut Ivan tidak ada korban jiwa. Itu artinya masyarakat disana sudah menunjukkan kesiapsiagaan dalam menghadapi bencana.
"Ke depan, masyarakat atau pengunjung yang datang ke kawasan wisata ini mendapat edukasi dari pemilik kawasan wisata dan mengingatkan semua pengunjung agar segera meninggalkan sungai saat mendengar suara kentungan," tanasnya.
Harapan kita, tambah Ivan dengan adanya FGD dan sosialisasi secara berkesinambungan kepada pelaku wisata dan masyarakat dapat lebih menyadarkan kita betapa pentingnya kesiapsiagaan dalam menghadapi bencana.