BBM Naik Tak Bikin Orang Takut Kredit


BBM Naik Tak Bikin  Orang Takut Kredit
Konferensi Pers RDK (Rapat Dewan Komisioner) OJK

jaringberita.com -Otoritas Jasa Keuangan (OJK) yakin kinerja sektor jasa keuangan stabil meski harga bahan bakar minyak (BBM) bersubsidi naik. Sebab, pertumbuhan ekonomi tahun ini diproyeksi tetap tumbuh di atas 5 persen.

Ketua Dewan Komisioner OJK Mahendra Siregar mengatakan, dari beberapa skenario dan proyeksi, seluruhnya tetap menggambarkan pertumbuhan ekonomi tahun 2022 di atas 5 persen.

“Keyakinan akan pertumbuhan ekonomi yang baik, tak menyurutkan orang mengambil kredit atau pembiayaan,” kata Mahendra dalam acara Konferensi Pers RDK (Rapat Dewan Komisioner) Bulanan Agustus 2022 secara hybrid.

Mantan Wakil Menteri Luar Negeri (Wamenlu) ini meyakinkan kinerja perbankan dalam kondisi baik.

“Kami berharap (debitur) bisa semakin memanfaatkan kondisi perbankan. Jumlah likuiditas secara relatif maupun absolut masih cukup. Terutama untuk disalurkan lebih banyak lagi kepada debitur sektor riil, baik untuk kredit modal kerja maupun kredit investasi,” yakin Mahendra.

Menurut dia, kepastian laju ekonomi akan membangun confidence dari tekanan elemen kenaikan harga berbagai macam komoditas, yang diperkirakan akan terjadi karena penyesuaian harga BBM.

Di kesempatan yang sama, Kepala Eksekutif Pengawas Perbankan OJK Dian Ediana Rae memastikan, fungsi intermediasi perbankan meningkat, dengan kredit tumbuh sebesar 10,71 persen secara tahunan/ year on year/yoy (Juli 2022). Hal ini didorong peningkatan kredit jenis modal kerja dengan kategori debitur korporasi.

“Namun demikian, secara nominal kredit perbankan sedikit menurun sebesar Rp 17,54 triliun menjadi Rp 6.159,33 triliun,” jelasnya.

Sementara Dana Pihak Ketiga (DPK) tumbuh sebesar 8,59 persen yoy di Juli 2022. Namun angka ini masih melambat jika dibandingkan bulan sebelumnya, yakni 9,13 persen yoy. Hal ini didorong oleh perlambatan giro, yang sejalan dengan normalisasi kebijakan moneter Bank Indonesia (BI).

Kemudian, likuiditas industri perbankan pada Juli 2022 masih berada pada level yang memadai. Hal tersebut terlihat dari rasio Alat Likuid/Non-Core Deposit dan Alat Likuid/DPK masing-masing sebesar 124,45 persen dan 27,92 persen. Alias terjaga di atas ambang batas ketentuan masing-masing pada level 50 persen dan 10 persen.

Sejalan dengan tren nasional, fungsi intermediasi perbankan di daerah pada Juli 2022 dalam kondisi terjaga. Dengan kecenderungan peningkatan penyaluran dana yang sedikit lebih tinggi dibandingkan dengan penghimpunan dana. Sehingga LDR (Loan To Deposit Ratio) posisi Juli 2022 (76,51 persen) meningkat dibandingkan Juni 2022 (73,13 persen),” ujarnya.

Profil risiko perbankan pada Juli 2022 masih terjaga dengan rasio NPL (Non Performing Loan) net perbankan tercatat sebesar 0,82 persen (NPL gross 2,90 persen). Sementara Posisi Devisa Neto (PDN) Juli 2022 tercatat 1,77 persen, atau berada jauh di bawah threshold sebesar 20 persen. Industri perbankan juga mencatatkan peningkatan CAR (Capital Adequacy Ratio) menjadi sebesar 24,92 persen.

Dian menegaskan, di tengah berbagai tekanan yang dihadapi perekonomian global saat ini, pertumbuhan kredit diproyeksikan erus meningkat di 2022. Ini seiring pertumbuhan ekonomi nasional, yang diperkirakan masih cukup baik dibandingkan negara-negara lainnya.

Kinerja perekonomian yang baik tersebut, sambungnya, akan diikuti naiknya permintaan kredit. Khususnya sektor-sektor ekonomi yang dianggap prospektif. Seperti sektor industri pengolahan, sektor perdagangan besar dan eceran, serta UMKM (Usaha Mikro Kecil dan Menengah).

“Namun perlu diwaspadai untuk sektor pertambangan dan komoditas, yang saat ini tumbuh signifikan namun berpotensi menghadapi tekanan jika harga komoditas terkoreksi,” imbau Dian.

Menyoal ini, Corporate Secretary PT Bank Mandiri (Persero) Tbk Rudi As Aturridha optimistis target pertumbuhan kredit bisa mencapai 11 persen hingga akhir 2022.

“Kami optimistis dapat terealisasi, dengan tetap menjaga prinsip kehati-hatian,” katanya.

Bahkan kenaikan suku bunga acuan oleh BI dinilai tidak akan mempengaruhi target bisnis perusahaan.

Sejak awal tahun lalu, Bank Mandiri telah menurunkan suku bunga deposito rupiah secara agresif berkisar 50 sampai 75 bps, dari sebelumnya 3,00 persen pada Maret 2021,menjadi 2,25 persen -2,50 persen pada Juli 2022.

Terpisah, Kepala Ekonom Bank Permata Josua Pardede mengatakan, inflasi inti kemungkinan ikut terkerek akibat imbas kenaikan harga BBM. Ia memperkirakan inflasi inti tahun ini mencapai 4-5 persen.

“Biasanya ketika inflasi naik, ditambah BI rate naik, suku bunga simpanan dan kredit naik. Ketika suku bunga acuan naik, waspada terhadap NPL dan permintaan kredit turun itu akan memberi dampak ke perbankan,” sebutnya kepada Rakyat Merdeka, kemarin.

Terutama saat bank akan menyalurkan kredit ke sektor transportasi dan ritel. Menurutnya, kenaikan harga BBM akan berimbas langsung kepada kedua sektor tersebut.

“Inflasi yang naik bakal menekan daya beli masyarakat, khususnya di sektor ritel. Dalam kondisi ini, memang tidak banyak yang bisa dilakukan. Namun bank sebaiknya meningkatkan credit risk management,” imbaunya seperti dilansir dari RM.id


Tag: