jaringberita.com - Papua: aPenerapan teknologi 5G Underground Smart Mining di PT Freeport Indonesia (PTFI) terbukti efisien dan meningkatkan produksi. Untuk itu, Mind ID disarankan menerapkan teknologi hasil kerja sama dengan Telkomsel itu di wilayah pertambangan lainnya.
Saran tersebut disampaikan Direktur Executive Energy Watch, Mamit Setiawan. Sebab menurutnya, area penambangan biasanya berada di lokasi sulit dijangkau dan belum tentu dilengkapi dengan infrastruktur jaringan internet.
Padahal, infrastruktur telekomunikasi ini sangat penting dan dibutuhkan untuk menunjang operasional perusahaan.
“Apalagi ini teknologi 5G. Di kota besar saja 5G belum berjalan optimal. Kalau ini mampu menjangkau lokasi atau situs tambang Freeport di Papua, bahkan hingga ke area tambang bawah tanah, maka ini merupakan terobosan yang patut diapresiasi,” ujar Mamit saat dihubungi Rakyat Merdeka, kemarin.
Ia meyakini, adanya cakupan jaringan 5G yang lebih luas, maka dapat mendorong biaya operasional pertambangan menjadi lebih efisien.
Karena itu, teknologi 5G sebaiknya diterapkan di wilayah kerja anggota Holding BUMN (Badan Usaha Milik Negara) Pertambangan atau Mind ID. Seperti PT Antam, PT Bukit Asam, PT Inalum selaku induk holding dan PT Timah.
Ia optimistis, hal ini mampu meningkatkan kinerja holding secara keseluruhan, tak hanya di anak usaha. Dengan begitu, kontribusi kepada negara pun bisa lebih tinggi.
“Tentu penerapannya tetap disesuaikan kebutuhan dan kondisi dari masing-masing site yang dikelola perusahaan,” katanya.
PT Telkom Indonesia sendiri harus siap menghadapi disrupsi digital. Mengingat ekonomi digital Indonesia diperkirakan akan tumbuh hingga Rp 4.800 triliun di tahun 2030.
“Pertambangan tak kalah penting. Kami memberanikan diri, mencoba melakukan inovasi pada seluruh aktivitas pertambangan secara digital, selain program hilirisasi yang Presiden minta,” katanya.
Ia menuturkan, berdasarkan kajian Deloitt International tahun 2021, penerapan 5G di pertambangan sudah dijalankan di Amerika Serikat (AS), Swedia, China dan Rusia.
Hasilnya, kata dia, bisa meningkatkan produktivitas hingga 25 persen, penurunan biaya operasional. Khususnya pengeboran sampai 40 persen, dan penghematan energi sebesar 20 persen.
“Hal ini yang kami minta dan coba benchmarking di seluruh Mind ID Group, tidak hanya operasionalnya. Tapi juga digitalisasinya, agar Mind ID sebagai holding pertambangan bisa terus efisien,” akunya.
Dilansir RM.id, mantan bos Inter Milan ini pun menyampaikan laporan kinerja Mind ID yang terus meningkat dan sesuai yang diharapkan.
Di mana perolehan pendapatan Mind ID Group tahun 2021, tanpa konsolidasi dengan PTFI, sudah mencapai Rp 93,75 triliun. Atau naik 41 persen dibanding tahun 2020 sebesar Rp 66,5 triliun. Sementara perolehan laba bersih sebesar Rp 14,3 triliun di 2021.
Bahkan di enam bulan pertama tahun ini, capaian penghasilan holding sudah Rp 12,3 triliun.
“Kita (holding) tidak berpuas diri. Tahun 2022, target pendapatan (Mind ID Group) bisa naik ke Rp 108 triliun. Jadi bisa lebih tinggi lagi labanya,” optimisnya.
Dengan begitu, holding BUMN Pertambangan ini bisa berkontribusi lebih kepada negara, baik melalui pajak maupun dividen.
Direktur Utama Telkomsel Hendri Mulya Syam meyakini, penerapan teknologi jaringan broadband 5G Underground Smart Mining di lingkungan operasional pertambangan PTFI, akan semakin memberikan manfaat dan nilai lebih. Terutama dalam mendukung transformasi sektor pertambangan, yang akan memperkuat kedaulatan digital bangsa melalui Revolusi Industri 4.0.
“Kami, melalui unit bisnis Telkomsel Enterprise di PTFI telah melalui pembaruan infrastruktur, penguatan jaringan dan pengembangan platform untuk mobile edge computing,” katanya.
Saat ini Telkomsel telah membangun enam unit BTS 5G yang menjangkau lokasi pertambangan PTFI di wilayah Tembagapura, termasuk area tambang bawah tanah.
Dengan teknologi ini, kata dia, memungkinkan PTFI memonitor dan mencegah risiko kecelakaan kerja melalui optimalisasi penggunaan kamera, yang terhubung dengan kecerdasan buatan.