jaringberita.com -Medan--Ketua Cabang Nadhlatul Ulama (PCNU) Medan 2013-2018, Achmad Firdausi Hutasuhut menyebutkan Pimpinan Wilayah Nadhlatul Ulama (PWNU) Sumut melanggar aturan karena mengusulkan karateker PCNU Langkat, Tanjungbalai dan Karo ke PBNU. PWNU Sumut dikatakan Firdausi sudah membuat resah PCNU di seluruh Sumut.
"PWNU Sumut jelas sudah melanggar aturan. Saya membaca di grup whatsapp PWNU Sumut bahwa ada salah satu Wakil Rois PWNU Sumut yang mempertanyakan soal karateker ini. Misalnya apakah mereka (PCNU) sudah diperingatkan tertulis sebanyak tiga kali sebelum diusulkan karateker oleh PBNU," urai Firdausi dalam keterangannya kepada wartawan, Sabtu (12/8).
Firdaus juga meminta PBNU mencabut Surat Keputusan (SK) karateker kepada PCNU di Sumut karena mendapatkan informasi yang tidak akurat dari PWNU. Dia bahkan menegaskan agar PBNU segera melakukan evaluasi pada PWNU Sumut karena jadi terlibat aksi "pembegalan" kepada beberapa PCNU di Sumut.
Firdausi yang merupakan seorang advokat juga menenggarai adanya skenario untuk mendudukkan salah satu pengurus yang akan jadi kandidat sebagai Ketua PWNU Sumut periode mendatang.
"Ini dugaan kami ada skenario. Tiga PCNU di karateker alias dibegal atas informasi yang tidak akurat. Padahal informasi yang saya dapatkan dari ketua-ketua PC tersebut ada aturan yang dilanggar PWNU Sumut. Bahkan selama ini tak ada pembinaan dari PWNU Sumut kepada PCNU di Sumut. Saya akan buka masalah ini. Apa yang terjadi di Sumut harus jadi perhatian PBNU. Bila perlu PWNU Sumut ini pun harus dikarateker," kata Firdausi lagi.
Sementata itu Sekretaris PWNU Sumut, Hatta Siregar yang berusaha dikonfirmasi via pesan whatsapp tidak memberikan jawaban. Pesan yang dikirim centang biru pertanda sudah dibaca oleh Hatta Siregar. Tak lama Hatta malah memblokir akun whatsapp yang menghubunginya. Sekretaris PWNU Sumut ini juga terkesan menutupi persoalan.
Sebagai informasi, jelang Konferwil PWNU Sumut XVIII tahun 2022, terjadi berbagai manuver untuk mendorong salah satu kandidat memenangkan konferwil. Hal itu membuat resah warga Nadhliyin di Sumut.