jaringberita.com -Langkat | Puluhan warga Desa Gergas, Kecamatan Wampu, Kabupaten Langkat, Sumatra Utara, menggelar aksi unjuk rasa. Membawa berbagai poster dari karton bertulis berbagai tuntutan.
Puluhan warga dari pemuda hingga bapak-bapak menyampaikan aspirasi mereka ke Kantor Kepala Desa (Kades) Gergas.
Mereka menuding jika pihak PT Gergas Utama, telah merusak ekositel alam dikampung mereka. Dengan membabat habis seluruh hutan wisata seluas 5 hektar dengan dijadikan lahan perkebunan sawit.
"Ini tidak bisa dibiarkan dan harus diambil tindakan tegas agar kawasan hutan tidak rusak," kata Wakidi, salah satu warga yang menggelar aksi seperti dilansir katakabar, Rabu (24/8/2022).
Dalam aksinya, mereka juga mempertanyakan status hutan konservasi yang merusak potensi pariwisata yang dialih fungsikan oleh PT Gergas Utama. Bahkan dalam salah satu foster yang dibawa warga terpampang jelas dan diharapkan agar hutan wisata didesa mereka dapat dikembalikan seperti semula.
"Kepada pimpinan PT Gergas Utama, kembalikan hutan wisata air terjun kami. Tegakkan UU no. 41 pasal 46 tahun 1999," petisi dari isi tuntutan warga yang ditulis di karton.
"Besar harapan kami jika hutan wisata dapat dikembalikan seperti semula. Karena didesa kami memiliki potensi pariwisata air terjun," ungkap dia, disambut teriakan warga aksi.
Sejauh ini, dampak dari rusaknya kawasan hutan wisata yang sudah dialih fungsikan menjadi perkebunan sawit mulai jelas terlihat. Seperti hewan moyet liar yang biasa mendiami kawasan hutan wisata keluar secara bergerombolan menyerang pemukiman warga.
"Hewan-hewan ini masuk perkampungan secara bergerombolan dan merusak sebagian rumah hingga rumah ibadah. Seng dan barang barang yang ada disekitaran perkampungan dirusak. Hewan ini keluar dikarenakan tak ada lagi tempat (habitat) untuk mencari makan," terang pria yang menetap di Dusun ll Sidodadi ini.
"Yang ditakutkan lagi, tidak hanya merusak rumah dan fasilitas umum yang sudah dibangun desa. Hewan liar ini bisa saja menyerang anak-anak yang tengah bermain diperkampungan. Karena jelas, dengan kondisi tidak ada makanan dan tempat tinggal. Kawanan hewan liar akan keluar dan masuk perkampungan warga," sebut dia.
Warga menuturkan, belum lagi dampak kedepan yang tentu akan mengancam keselamatan dan merusak ekosistem. Salah satu seperti terjadi erosi yang berimbas rusaknya wisata air terjun yang menjadi salah satu wisata alam dikampung mereka. Karena wisata alam ini mereka bangun secara bersama untuk membangkitkan perekonomian desa dengan mewujudkan dan sesuau visi dan misi Bupati Langkat.
"Jadi disekitaran 5 hektar hutan konservasi, ada satu air terjun yang sudah kami rintis untuk membangun perekonomian desa. Ini bisa rusak dikarenakan hutan sudah gundul dan tanah tidak lagi terikat oleh pepohonan yang tumbuh dikawasan hutan. Tentu nantinya akan merusak air terjun ini," papar dia.
Makanya, jelas dia, warga terus berupaya sekuat tenaga pertahankan kawasan hutan agar bisa dikembalikan seperti sedia kala. "Selama berdiri PT, tak ada konfensasi yang kami terima. "Kami juga minta dana CSR dari PT Gergas Utama segera direalisasikan," tegas massa aksi.
Usulan warga disambut baik oleh Kepala Desa Gergas, Eka Desmig Pratika, yang didampingi Babinsa dan Babinkantibmas disana. Selain menampung aspirasi dan mengucapkan terima kasih kepada masyarakat karena sudah menyampaikan tuntutan secara damai. Dirinya juga berjanji akan meneruskan kepada atasannya untuk dapat ditindaklanjuti.
"Kepada warga yang menggelar aksi saya ucapkan terimakasih karena telah berlangsung damai. Selaku Kepala Desa, saya tentunya mempunyai keterbatasan. Selain memfasilitasi, saya berjanji akan melanjutkan aspirasi ke pihak PT Gergas Utama dalam bentuk surat permintaan klarifikasi terkait hal ini," ucap Eka, sembari berharap semoga PT Gergas Utama dapat memaksimalkan dana CSR (Corporate Social Responbility) yang merupakan pertanggungjawaban sosial dari Perusahaan kepada masyarakat sekitar.
"Sembari menunggu, saya berharap warga sekalian tetap menjaga keamanan dan kekondusifan, serta tidak merusak apapun yang dapat merugikan diri sendiri," pinta Eka.
Usai mendapat penjelasan dari Kades Gergas, akhirnya warga membubarkan diri dengan tertib. Selain Kades Gergas, turut hadir dalam menemui warga yakni Unsur Babinsa, Ketua dan anggota BPD, serta seluruh unsur Kadus dan perangkat.