Beda PDIP Dengan Partai Lain, Meski berjuang Raih Suara Anak Muda


Beda PDIP Dengan Partai Lain,  Meski berjuang Raih Suara Anak Muda
Direktur Eksekutif Charta Politika Indonesia Yunarto

jaringberita.com -Perjalanan PDI Perjuangan sebagai partai ideologi tak perlu diragukan. Sejak berdiri hingga saat ini, yang sudah menginjak 50 tahun, PDIP Perjuangan konsisten berpegang teguh pada ideologi Nasionalis Soekarnois. Hal inilah yang membedakan PDI Perjuangan dengan partai-partai lain.

"PDI Perjuangan adalah partai yang paling konsisten berada di rel ideologi," ujar

Direktur Eksekutif Charta Politika Indonesia Yunarto, menyebut kalau PDIP adalah partai paling konsisten berada di rel ideologi.

Menurut pria yang akrab disapa Toto ini, PDI Perjuangan merupakan partai yang sudah melalui proses sejarah. PDI Perjuangan sudah berkiprah sejak negara ini baru didirikan.

Berkat konsistensinya memegang ideologi, PDI Perjuangan pun sukses melahirkan tiga Presiden RI: yaitu Soekarno saat masih bernama Partai Nasional Indonesia (PNI), Megawati Soekarnoputri, dan Joko Widodo. Namun, dalam perjalanannya, PDI Perjuangan juga sudah merasakan pahit getir di luar pemerintahan. Seperti saat 32 tahun Orde Baru berkuasa dan saat pemerintahan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono alias SBY.

Toto melanjutkan, partai-partai lain yang baru terbentuk pasca reformasi, cenderung tanpa ideologi politik. Dengan kondisi ini, PDIP menjadi partai yang paling matang dan punya fondasi yang kuat. Apalagi kini usianya semakin matang, memasuki 50 tahun.

Salah satu kekuatan PDI Perjuangan, terang Toto, adalah perjalanan masa lalunya. Namun, kondisi ini tidak boleh membuat PDI Perjuangan terlena. Untuk menghadapi masalah saat ini dan ke depan, PDI Perjuangan harus menerjemahkan visi misinya menjadi partai yang adaptif, berorientasi pada masa depan, dan tidak terlena pada kejayaan masa lalu.

Sikap adaptif, dengan tetap memegang teguh ideologi, terbukti ampuh bagi PDI Perjuangan untuk tetap menjadi pilihan masyarakat. Dalam dua periode terakhir, saat memegang kekuasaan, PDI Perjuangan tetap mengorbit pada lingkaran wong cilik.

"Slogan wong cilik atau karakter seorang Jokowi ini membuat sebuah terobosan, yang menurut saya, luar biasa. Kalau kita bicara, kan sebuah akselerasi," terang Toto, dilansir rm.id.

Padahal, Jokowi jadi presiden dalam kondisi bangsa yang tidak mudah. Berbagai cobaan datang silih berganti. Namun, PDI Perjuangan tetap mampu mempertahankan diri sebagai partai dengan elektabilitas tertinggi. Bahkan, dukungan ke PDI Perjuangan besar dibandingkan masa-masa sebelumnya. Menurut Toto, hal ini dikarenakan ciri khas PDIP yang berpihak terhadap wong cilik, dipadukan gaya inovasi dari karakter seorang Jokowi.

Namun, harus diakui juga, tantangan terbesar PDI Perjuangan adalah citra partai di mata milenial.

Lalu, bagaimana cara menggaet suara milenial? Kata Toto, PDI Perjuangan harus mengedepankan tiga C. Pertama, critical voters. Partai harus memahami jika generasi milenial adalah pemilih yang paling kritis dibandingkan segmen lainnya. Jangan sampai PDIP justru menjadikan milenial sebagai objek semata. PDI Perjuangan perlu melakukan dialog dan pendekatan bottom up. "Kenapa demikian? Milenial adalah generasi yang paling cerdas, karena berada dalam era teknologi informasi digital, mereka penguasanya," jelas Toto.

Kedua, communicative. Toto menerangkan, anak muda sekarang hanya bisa didekati dengan bahasa mereka. Sehingga, mau tidak mau, proses regenerasi partai harus berjalan dengan baik, untuk menggapai kalangan ini. Tidak bisa sebuah partai bergantung pada nama-nama besar, yang memiliki gap alias jarak dengan generasi milenial.

Ketiga, community. Menurut Toto, generasi milenial tak bisa lagi diserap dengan cara-cara lama, yakni dengan metode pendekatan ke orang tua atau keluarganya.

Generasi milenial paling mudah terpengaruh oleh teman-temannya, dengan hobi yang sama atau suatu komunitas. Artinya, pendekatan hard politics melalui organisasi kemasyarakatan, underbow partai, atau kegiatan partai, tak cocok dilakukan. PDI Perjuangan harus menggunakan soft politics, berbasis komunitas.


Tag: