jaringberita.com - Kuntilanak terus hidup dalam benak warga sebagai hantu yang tak lelah 'meneror', terutama karena menempati ruang-ruang kosong di permukiman. Ahli pun menjelaskan muasalnya.
Timo Duile, antropolog dari Departemen Kajian Asia Tenggara di Bonn University, mengungkap asal-usul terbentuknya mitos kuntilanak lewat studinya berjudul
Kuntilanak Ghost Narratives and Malay Modernity in Pontianak, Indonesia.
Menurut dia, narasi kuntilanak menggambarkan modernitas Melayu yang spesifik, berkaca kepada cerita rakyat dan mitos pendirian kota Pontianak di Kalimantan Barat.
"Meski berhadapan dengan hantu, narasinya secara eksplisit modern karena ia membentuk dan bergantung pada pemisahan antara budaya dan alam; beroperasi sebagai bentuk pencerahan, narasi mengubah alam menjadi objek perkembangan manusia," tulis Duile.
Ia mengungkapkan paling tidak ada tiga narasi populer soal kuntilanak. Pertama, narasi yang dikembangkan di kebudayaan populer seperti di film, yang sangat terpengaruh oleh konsep Barat tentang vampir.
Kedua adalah narasi soal kuntilanak yang ternyata umum ditemukan di masyarakat melayu seperti di Malaysia, Singapura, selatan Filipina dan Brunei Darussalam. Di Malaysia dan Singapura, kata Timo, kuntilanak dikenal dengan sebutan pontianak.
"
Kuntilanak diketahui sebagai hantu wanita dengan karakteristik mirip vampir: tertarik dengan darah, yang digunakannya sebagai makanan, dan berbahaya bagi wanita yang sedang melahirkan," tulis Duile.
"Sebagai sosok yang belum mati, kuntilanak mengancam manusia karena tidak bisa menemukan kedamaian. Dia menggunakan pakaian serba putih dan disebut biasa tinggal di bawah pohon atau hutan," tulisnya lagi.
Ketiga adalah narasi kuntilanak yang berkaitan dengan mitos pendirian kota Pontianak. Dibanding dengan dua narasi sebelumnya, Timo menilai narasi ketiga ini adalah "yang paling krusial".
Untuk penelitiannya, Duile langsung berkunjung dan menetap beberapa saat di Pontianak. Di sana, dia menyebut masyarakat Pontianak kerap mengasosiasikan hantu tersebut dengan alam.
Duile mengungkap mitos ini tak lepas dari sejarah pendirian Pontianak. Sultan pertama Pontianak sekaligus pendiri kota, Syarif Abdurrahim, konon mendirikan kota ini pada 1771.
Bangsawan keturunan Arab ini diberi tanah di pertemuan sungai-sungai besar di dekat delta Sungai Kapuas, lokasi strategis jalur perdagangan utama untuk mengangkut barang dari pedalaman pulau. Masalahnya, delta itu juga menjadi rumah bagi para perompak.
Narasi resmi menyebut tugas Syarif Abdurrahim adalah menjadikan kota sebagai benteng melawan para perompak (Hasanuddin 2014:21-2).
Daerah itu juga masih rawa-rawa dan hutan lebat. Ada pula yang mengklaim bahwa nama 'Pontianak' berasal dari bahasa Melayu 'pon ti' (pohon tinggi) (Asma 2013:xxxiii). Hal ini sejalan dengan interpretasi narasi Kuntilanak; pohon tinggi sering diasosiasikan dengan arwah di pedesaan Kalimantan Barat.
Berdasarkan buku 'Pontianak heritage dan beberapa yang berciri khas Pontianak', nama Pontianak berasal dari hantu Kuntilanak, atau hantu perempuan, yang diklaim banyak di pertemuan Sungai Kapuas Besar, Sungai Kapuas Kecil, dan Sungai Landak.
"Cerita bermula saat rombongan Syarif Abdurrahim tiba di kawasan itu. Mereka melihat banyak gangguan dan suara yang menakutkan. Gangguan tersebut dianggap sebagai hantu jahat, sebagai hantu Kuntilanak, dan membuat takut orang-orang di atas perahu," dikutip dari buku tersebut.
"Keesokan harinya, mereka tidak melanjutkan perjalanan [...]. Maka, sebagai alat pengusir hantu, Syarif Abdurrahim menembakkan meriam."
Lalu, kenapa
Kuntilanak menghantui masyarakat hingga saat ini?
Menurut 'teori monster' Cohen (1996), 'monster selalu melarikan diri untuk kembali ke tempat tinggalnya di pinggiran dunia'. Monster itu selalu kabur-dalam kasus Kuntilanak-ke pedalaman Kalimantan, berdiam di pinggiran, dan mengancam untuk kembali.
Kengerian
Kuntilanak berasal dari pelariannya dan potensinya untuk kembali.
Kuntilanak memang muncul sebagai kebalikan dari masyarakat. Namun, dia menunjukkan karakteristik manusia dan karenanya lolos dari urutan klasifikasi (biner manusia/non-manusia).
Mengutip antropolog Andrew Johnson, ketakutan terhadap hantu di kota berasal dari kegelisahan tentang modernitas. Seperti di Pontianak; modernitas bertumpu pada rasa takut terhadap Kuntilanak, dan sebaliknya
Kuntilanak adalah ekspresi modernitas.
Duile menyebut dengan mengusir Kuntilanak, tempat yang tadinya tidak dapat dihuni menjadi dapat dihuni dan dapat diatur. Alhasil, alam yang dulunya dihuni makhluk halus, berubah menjadi sumber bagi tegaknya peradaban Melayu. "Manusia menjadi penguasa atas alam."
Namun, rasionalitas di sini datang dengan agama: meriam Sultan menggambarkan teknik (rasionalitas) dan kekerasan yang dibutuhkan modernitas untuk menyingkirkan roh gentayangan.
Di satu sisi, kengerian
Kuntilanak membutuhkan kesucian sebagai lawannya. Di sisi lain, kesucian membutuhkan kengerian
Kuntilanak sebagai landasannya.
"Rasionalitas yang menyertai Islam memang memberikan cara memandang alam sebagai sumber daya, dalam artian kuntilanak digusur dan dapat dijauhkan melalui pertunjukan-pertunjukan keagamaan."
Namun, kengerian
Kuntilanak membuktikan penyesalan yang terkubur di alam bawah sadar kolektif. Buktinya, popularitas
Kuntilanak yang luar biasa di seluruh ranah Melayu.
"Di Pontianak,
Kuntilanak hadir justru melalui ketidakhadirannya. Dia adalah ancaman-yang-tak-ada-di sini dan karena itu dia berarti. Horor muncul melalui gagasan bahwa jarak antara dirinya dan komunitas manusia tidak pasti," jelasnya.
Duile menyebut bukan kebetulan
Kuntilanak menyebar hingga ke seluruh Indonesia dan menjadi hantu favorit dalam novel dan film horor.
Baginya, itu terkait pula dengan urusan politik; paradigma pembangunan selama era Soeharto. Bahwa, alam hanya menjadi sumber daya untuk pembangunan (Arnscheidt 2009:117-24).
Namun, rasionalitas paradigma pembangunan membutuhkan konsep alam sebagai sisi lain yang menakutkan dari masyarakat, karena gagasan pembangunan membutuhkan legitimasi dominasi laki-laki atas alam.
Dulu, proyek Indonesia didasarkan pada gagasan masyarakat yang adil dan inklusif bagi semua warga negara, dan kemajuan dipandang sebagai alat untuk mencapai kehidupan yang baik bagi semua warga negara.
Masalahnya, Orde Baru tidak memiliki rasionalitas dalam hal pembangunan; ada isu ketidakadilan, korupsi, kekerasan, dan kemiskinan meskipun ada pertumbuhan ekonomi yang besar.
"Irasionalitas dalam kerangka rasional pembangunan ini terus hidup di Indonesia yang demokratis, dan kembali menjadi salah satu wacana utama dalam politik," ujarnya, menukil penelitian Warburton (2016).
"Masyarakat mencerminkan irasionalitasnya sendiri dalam narasi tentang orang lain.
Kuntilanak dengan demikian mewujudkan ketakutan dan irasionalitas tidak hanya tentang perempuan, tetapi juga alam sebagaimana dikontekstualisasikan dalam modernitas Indonesia."
"Saat alam dan masyarakat tidak berdamai,
Kuntilanak akan terus menghantui nusantara," tandas Duile.
Tags
beritaTerkait
komentar