Tak Hanya Tubuh Pendek, Stunting Pun Bisa Meningkatkan Risiko Penyakit Degeneratif


Tak Hanya Tubuh Pendek, Stunting Pun Bisa Meningkatkan Risiko Penyakit Degeneratif
Pixabay
Ilustrasi

jaringberita.com - Selain berisiko bagi tingkat kecerdasan, stunting ternyata juga dapat meningkatkan resiko anak atau orang yang mengidapnya terserang penyakit degeneratif.

"Dalam jangka panjang, stunting berkaitan dengan tingkat kecerdasan, sehingga (akan) berkaitan pula dengan produktivitasnya di kemudian hari. Namun selain itu, orang stunting juga beresiko untuk penyakit degeneratif, seperti jantung, diabetes, hipertensi dan lain-lain," ungkap Ketua Program Matching Fund Kedaireka Stunting 2022, Dr dr Juliandi Harahap MA Sp KKLP, Rabu (28/12/2022).

Lebih lanjut Juliandi berharap, hal ini lah yang ingin mereka putus agar Sumber Daya Manusia (SDM) Indonesia ke depannya produktif dan tidak sakit-sakitan yang dapat membebani biaya kesehatan. Karenanya, jelas dia, kegiatan penurunan stunting yang dilakukan oleh Kedaireka ini lebih ditujukan kepada perubahan perilaku.

"Maknanya, bagaimana kita bisa meningkatkan kesadaran dan pengetahuan dari kelompok sasaran akan stunting ini," jelasnya.

Juliandi menyebutkan, kelompok sasaran yang dimaksud terdiri dari remaja atau calon pengantin, ibu hamil dan menyusui serta para keluarga beresiko stunting. Dia mengaku, selama program itu dilakukan, mereka sudah memberikan berbagai bentuk edukasi dan penyuluhan dengan kepada kelompok sasaran tersebut.

"Selain itu ada juga modul pengolahan pangan lokal yang kita sebut DAHSAT (Dapur Sehat Atasi Stunting) yang merupakan adopsi dari program BKKBN. Karena dalam hal ini BKKBN adalah mitra dari Perguruan Tinggi," terangnya.

Juliandi menuturkan, dalam program Matching Fund ini terlibat sebanyak 10 Perguruan Tinggi dengan Universitas Sumatera Utara (USU) sebagai koordinatornya. Perguruan Tinggi tersebut, imbuh dia, selanjutnya bekerja di 10 Kabupaten/Kota melakukan inovasi untuk diajarkan kepada kelompok sasaran tadi.

Dia menambahkan, dengan pelatihan yang dilakukan, diharapkan kelompok sasaran itu bisa menghasilkan produk untuk meningkatkan income keluarga dari 10 pangan lokal yang sudah ditetapkan, selain meningkatkan gizi.

Dia memaparkan, ke-10 pangan lokal itu di antaranya adalah labu kuning, ikan sampah yang bisa diolah menjadi abon, nuget atau bakso, biji alpukat menjadi brownis, kacang merah, ampla ayam dan lain-lain.

"Perubahan perilaku yang diharapkan, bagaimana mereka tahu tentang stunting dan tahu mengidentifikasi faktor resikonya. Karena stunting ini umumnya masyarakat menganggap anaknya sehat, padahal dibanding anak sebayanya tubuhnya lebih pendek," pungkasnya.

Editor
: Nata

Tag: