jaringberita.com - Dokter Adityawati G. M.Biomed dari MRCCC Siloams Hospitals Semanggi menyarankan agar skrining atau tes mamografi untuk deteksi kanker payudara mulai dilakukan pada perempuan berusia 35 tahun ke atas. Apa alasannya?
Ya, tidak semua perempuan disarankan lakukan tes mamografi untuk deteksi kanker payudara. Bukan tanpa alasan, itu berkaitan dengan gambar hasil mamografinya.
"Pada perempuan produktif, masih menyusui, atau masih berencana punya anak, payudara mereka masih dipenuhi kelenjar ASI dan ini memengaruhi hasil mamografinya," kata dr Dita, dikutip dari Okezone.
"Nah, karena kelenjar ASI-nya masih banyak, itu bakal bikin nyaru hasil mamografi. Jika ada kelainan seperti sel kanker, gambarannya jadi tidak jelas," katanya.
Lain cerita pada perempuan berusia 35 tahun ke atas. Kelompok ini, kata dr Dita, kelenjar ASI-nya mulai tidak banyak, apalagi pada perempuan 40 tahun ke atas.
"Kebanyakan dari mereka payudaranya lebih banyak lemak dan tidak padat, yang mana dengan kondisi ini hasil mamografinya bisa lebih jelas terlihat jika ada kelainan," sambung dr Dita.
Karena hal itu, tes mamografi untuk deteksi kanker payudara mulai dilakukan pada usia 35 tahun ke atas. Pengerjaannya sekali dalam hidup.
"Tapi, kalau usianya sudah 40 tahun ke atas, disarankan tes mamografi dikerjakan 2 tahun sekali. Kalau sudah berusia 50 tahun ke atas, tes mamografi dilakukan setahun sekali. Ini rekomendasi Badan Kesehatan Dunia (WH0)," tambah dr Dita.
"Mereka yang punya riwayat keluarga kanker payudara disarankan juga untuk melakukan tes mamografi, bisa dimulai tes pertamanya di usia 28-29 tahun," sambungnya.