Bisakah Berpikir Kalau Tak Punya Otak?


Bisakah Berpikir Kalau Tak Punya Otak?
Ilustrasi. Otak biasa digunakan makhluk hidup untuk berpikir dan memproses informasi. (Allan Ajifo/Wikimedia Commons)
jaringberita.com -Proses berpikir dan belajar tidak harus membutuhkan otak. Hewan anemonlaut berbentuk bintang mampu membuktikan hal tersebut.

Hubungan otak dengan tingkat kecerdasan, atau sebaliknya kebodohan, kerapdiungkapkan dalam hardikan jika seseorang melakukan kesalahan. Lalu, apakah benar keduanya selalu berkorelasi?

Riset terbaru menunjukkan kendati tak memiliki otak, mereka mampu belajar hal-hal yang kompleks. Anemon laut misalnya mampu mengingat hubungan antara aliran listrik dan air.

"Inilah yang benar-benar kita sebut dengan pembelajaran asosiatif()," kata penulis riset tersebut, Simon Sprecher, neurobiologdari University of Fribourgseperti dikutip dariScience Alert.

Pembelajaran asosiatifmerupakan bentuk belajar yang paling dasar,yakni membuat suatu asosiasi atau hubungan baru dari duafenomena.

"Bukti bahwa bahkan binatang pun tanpa otak dapat menunjukkan perilaku yang kompleks berkat sistem saraf mereka," ujarnya menambahkan seperti dilansir situs resmiUniversity of Fribourg.

Dengan kemampuan otak, binatang bisa dengan mudah mengaitkan sebuah stimulus dengan respons tertentu dan mengubah perilaku mereka, berdasarkan apa yang telah mereka pelajari dan ingat.

Contohnya, jika Anda kurang beruntung menyentuh benda panas, Anda berharap tidak akan mengulanginya lagi dengan cara mengubah perilaku.

Kemampuan mengingat hal tersebut diduga karena evolusi sistem saraf yang mengatur kekuatan sinaptik dan plastisitas di otak. Namun, tidak semua binatang ternyata memiliki otak.

Cnidarians seperti anemonlaut dan ubur-ubur hanya memiliki jaringan saraf yang terdesentralisasi. Alhasil, bisa diasumsikan bahwa mereka hanya belajar dengan cara non-asosiatif.

Para pakar pun menginvestigasi kemampuan pembelajaran asosiatif anemonlaut lewat eksperimen yang memanfaatkan kejutan cahaya dan listrik. Pada pengkondisian klasik, sebuah kondisi yang netral akan dipasangkan dengan hasil biologis yang signifikan dalam bentuk hadiah atau hal negatif.

Sprecher dan timnya lalu secara acak mengumpulkan 10 hingga 18 anemon laut untuk menjalani percobaan menghadapi aliran listrik dan cahaya yang diberikan berbarengan, dan diberikan secara terpisah.

Mereka menggunakan kejutan listrik yang kecil untuk membuat hewan-hewan tersebut mengerutkan tentakelnya. Para pakar melatih anemontersebut dengan memberikan listrik atau cahaya secara bersamaan dan terpisah.

Kemudian, para pakar menguji reaksi hewan tersebut hanya dengan cahaya. Hasilnya, anemonyang menerima gelombang listrik dan cahaya secara bersamaan bisa menyesuaikan perilaku mereka dan bereaksi kepada cahaya saja setelah tahap pengkondisian.

Pada kelompok anemonlaut yang lebih dahulu menerima gelombang kejut di waktu yang sama, 72 persen tentakelnya mengerut ketika hanya menerima cahaya.

Jumlah tersebut lebih dari dua kali tingkat reaksi (30 persen) anemon yang dilatih dengan listrik dan cahaya yang diberikan di waktu berbeda.

Dengan menggunakansoftware,tim peneliti juga mampu mengukur tingkat pengerutan tentakel tersebut. Mereka menemukan, tentakel maksimal mengerut jauh lebih panjang pada anemonyang dilatih menggunakan cahaya dan listrik secara bersamaan.

"Secara keseluruhan, hewan-hewan ini menunjukkan perilaku yang berbeda secara kuantitatif dan kualitatif jika dibandingkan dengan anemonyang menerima stimuli tak bersamaan," tulis tim pakar.

Namun demikian, para pakar belum mengetahui pasti, apakah cnidarians berbagi neurotransmiter(penghantar impuls, mengaktifkan saraf dan ion) dan neuromodulator(mengatur aktivitas ion) yang sama dengan manusia, seperti hormon serotonin dan dopamin.

Selain itu, para pakar menduga mungkin saja pembelajaran asosiatifberevolusi secara independen pada hewan-hewan tersebut.

Penulis
: CNN Indonesia
Editor
: La Tansa

Tag: