jaringberita.com - Marahnya PresidenKorea Selatan (Korsel) Yoon Suk Yeol kepada militer sangat beralasan.
Pasalnya, bobolnya pertahanan udara, hingga lima droneKorea Utara (Korut) masuk. Presiden menyebut kalau militer Korsel kurang persiapan dan latihan.
Salah satu drone bahkan mendekati Ibu Kota Seoul. Meski diketahui tak membawa senjata, Yoon mengkritik respons militer Korsel terkait masuknya lima drone Korut tersebut.
Yoon juga menegaskan akan mempercepat pembentukan unit militer khusus drone.
“Insiden itu menunjukkan kurangnya kesiapan dan pelatihan militer kita selama beberapa tahun terakhir, dan jelas menegaskan perlunya kesiapan dan pelatihan yang lebih intens,” kata Yoon dalam rapat kabinet, kemarin.
Dia juga menyalahkan situasi kemarin sebagai akibat lemahnya kebijakan para pendahulunya terkait Korut. Dikatakan, Korsel mengandalkan niat baik Pyongyang dan pakta militer antar-Korea 2018 yang melarang kegiatan bermusuhan di daerah perbatasan.
Ogah kebobolan lagi, Yoon akan membentuk unit militer khusus. Dia berjanji meningkatkan kemampuan pengawasan dan pengintaian dengan drone siluman mutakhir.
“Kami telah merencanakan membentuk unit drone untuk memantau dan mengintai fasilitas militer utama Korea Utara, dan sekarang akan mempercepat rencana tersebut,” katanya.
Sebelumnya, dilansir rm.id, lima pesawat tak berawak Korut menyeberang ke Korsel pada Senin pagi. Atas hal itu, militer Korsel merespons dengan mengerahkan pesawat tempur serta helikopter serbu.
Nahas, salah satu pesawat tempur yang dikerahkan untuk mencegat drone, yakni KA-1, jatuh. Dua pilot selamat setelah keluar menggunakan kursi lontar.
Pesawat tempur KA-1 jatuh di Hoengseong, sekitar 140 km sebelah timur Seoul, kemarin pukul 11.43 waktu setempat. Kehadiran drone Korut juga memaksa otoritas penerbangan sipil untuk menghentikan sementara penerbangan di dua bandara kemarin siang, yakni Incheon dan Gimpo.
Insiden tersebut menyoroti kurangnya pelatihan dan kesiapan militer Korsel dalam menangkal ancaman tetangganya, meski peristiwa serupa pernah terjadi pada 2014 dan 2017.
Drone tersebut melintasi Garis Demarkasi Militer yang memisahkan kedua Korea dan terlihat di Gimpo, Pulau Ganghwa, dan Paju.
“Ini aksi provokasi terang-terangan oleh Korea Utara yang melanggar wilayah udara kami,” kata seorang pejabat di Kepala Staf Gabungan Korsel, Lee Seung O, dalam pernyataan, dikutip dari Reuters.
Korut meningkatkan aktivitas militer, termasuk meluncurkan banyak rudal sepanjang tahun ini. Negara komunis itu juga mengerahkan pesawat militer ke dekat perbatasan, serta melakukan penembakan artileri di perairan dekat perbatasan kedua negara.