Retno bersama menteri luar negeri se-ASEAN, kecuali delegasi dari Myanmar, duduk bersama, dalam AMM yang digelar di Jakarta, 3-4 Februari. Dalam pertemuan tersebut menghasilkan tiga kesepakatan utama, termasuk upaya organisasi regional itu untuk membantu Myanmar keluar dari krisis politik
"Saya senang dapat memberi tahu anda bahwa pertemuan-pertemuan ASEAN selama dua hari ini berlangsung secara konstruktif, substantif, dan produktif,” ujar Retno, kemarin dilansir rm.id
Retno membeberkan ketiga kesepakatan itu. Pertama, para Menteri Luar Negeri (Menlu) ASEAN mendukung peningkatan kapasitas maupun efektivitas kelembagaan ASEAN dalam menghadapi tantangan masa kini, dan masa depan, termasuk menyongsong ASEAN 2045. Kedua, paraMenlu ASEANjuga sepakat menjadikan kawasan Asia Tenggara sebagai pusat pertumbuhan, aspek yang juga menjadi tema keketuaan Indonesia tahun ini.
Dalam hal ini, ada tiga instrumen yang akan dilakukan. Upaya pertama, memperluas penggalangan dana ASEAN Covid-19Response Fundmenjadi ASEANResponse Fund. Kedua, mengembangkan Kerangka Ekonomi Biru ASEAN (ASEAN Blue Economy Framework). Ketiga, mengimplementasikan pandangan ASEAN terhadap Indo-Pasifik (ASEANOutlook on Indo-Pacific/AOIP).
Adapun kesepakatan ketiga dalam AMM adalah, memetakan proyek konkret bersama mitra ASEAN sebagai bagian dari implementasi AOIP, memperkuat kemitraan ASEAN dengan negara-negara Pasifik, dan mengembangkan ASEANMaritime Outlook.
Bukan hanya tiga kesepakatan. Diungkapkan Retno, para menlu juga membahas tiga isu utama selama pertemuan. Baik yang menyangkut isu kawasan maupun global. Salah satunya komitmen penyelesaian negosiasi tata perilaku (Code of Conduct/COC) Laut China Selatan.
Soal Laut China Selatan, Retno menyebut, Indonesia siap menggelar lebih banyak negosiasi mengenai kode tata perilaku selama menjalani perannya sebagai keketuaan ASEAN tahun ini. Negosiasi CoC pertama di Indonesia dijadwalkan Maret mendatang.
Isu lain yang juga dibahas adalah penegasan sikap bersama ASEAN untuk mendukung pelaksanaan Konsensus Lima Poin (5PC) untuk membantu Myanmar. Kata Retno, sikap ASEAN merespons krisis Myanmar tidak akan berubah dan akan selalu mengacu pada Konsensus Lima Poin itu.
“Rencana (penerapan konsensus) sangat penting bagi ASEAN, khususnya ketua, sebagai pedoman dalam menyikapi situasi di Myanmar. Ini menunjukkan persatuan anggota ASEAN untuk mengimplementasikan 5PC,” imbuhnya
Adapun kelima poin konsensus tersebut adalah: mengakhiri segera kekerasan di Myanmar, dialog antara semua pihak terkait, penunjukan utusan khusus, penyaluran bantuan kemanusiaan oleh ASEAN untuk Myanmar, dan kunjungan utusan khusus ASEAN ke Myanmar untuk bertemu dengan semua pihak.
Balik lagi ke AMM. Para menlu juga menghasilkan kesepahaman bersama untuk menjalin kemitraan eksternal ASEAN yang lebih efektif dan produktif, berdasarkan prinsip kesetaraan dan saling menghargai.
Indonesia juga akan berupaya mendorong kemitraan ASEAN dengan Uni Eropa danGulf Cooperation Council(GCC), serta penguatanEast Asia Summit(EAS) sebagai forum strategis kawasan, khususnya dalam mengatasi tantangan di Indo-Pasifik.
Pengamat Hubungan Internasional Universitas Padjajaran, Teuku Rezasyah menilai, Retno seorang diplomatik karir yang sangat ulung, optimistik, berwawasan ke depan, bereputasi global, dan mendapat kepercayaan penuh dari Presiden.
Dalam menangani pertemuan pertama tersebut, terlihat beliau sangat berhati-hati, taat prosedur, dan sadar akan perlunya membangun ASEAN secara berkelanjutan,” ulas Reza