jaringberita.com: Warga Desa Siraja Hutagalung, Kecamatan Siatas Barita, Tapanuli Utara menemukan 4 tengkorak manusia di aliran Sungai Aek Situmandi yang berada di desa itu.
Ke 4 tengkorak tersebut ditemukan di dalam peti mati yang terbuat dari pohon enau yang sudah kelihatan usang oleh salah seorang warga yaitu Edu Tarihoran (69), warga Desa Siraja Hutagalung Siatas Barita Taput.
Kepala Kepolisian Resort Tapanuli Utara AKBP Johanson Sianturi mengatakan berdasarkan penuturan saksi, tengkorak tersebut ditemukan saat dia masuk ke sungai untuk mencari besi-besi bekas untuk diperjualbelikan.
"Menurut saksi, di daratan kering di pinggir sungai, dia melihat ada batang pohon enau yang sudah membusuk muncul ke atas dan diapun penasaran untuk mengetahui hal tersebut," ucap AKBP Johanson, Kamis (29/9).
Setelah mendekat lalu penasaran untuk membuka batang pohon tersebut dan setelah terbuka lalu melihat tengkorak manusia di dalam. Selanjutnya dirinya pulang dan menceritakan hal tersebut kepada tetangganya.
Namun, karena hari sudah sore menjelang malam, warga sekitar memutuskan untuk melihat onggok tulang belulang tersebut pada keesokan harinya dengan didampingi petugas kepolisian.
Rabu (28/9) pagi, warga sekitar didampingi petugas kepolisian dari Polres Taput dan Polsek Sipoholon turun ke pinggir sungai untuk melihat hal tersebut.
Setelah peti mati yang terbuat dari batang pohon enau tersebut dibuka kelihatan di dalamnya ada tengkorak manusia yang dinilai telah berusia lebih dari 200 tahun dan diduga kuat merupakan leluhur salah satu marga di desa itu.
"Terkait temuan tersebut, Kepala Desa Diraja Hutagalung Japatar Hutagalung kepada Petugas Kepolisian, bahwa tengkorak tersebut diyakini tengkorak dari keluhur mereka keturunan dari marga Hutagalung yang dikebumikan sekitar 200 tahun yang lalu," ucap Kapolres.
Atas permintaan Kepala Desa dan Masyarakat, Kapolres Taput ,emberikan apresiasi atas keperdulian dan antusias warga akan rencana pemindahan tengkorak tersebut ke penguburan umum dengan melakukan penelusuran sejarah serta melakanakan upacara adat.