Kamis, 15 Oktober 2026

Fenomena Buruk SMA Negeri di Sumut, Paksa Bayar Uang Sekolah Jelang Ujian

- Minggu, 25 September 2022 10:00 WIB
Fenomena Buruk SMA Negeri di Sumut, Paksa Bayar Uang Sekolah Jelang Ujian

jaringberita.com -Kebijakan pembiayaan pendidikan sejak dari APBN dan APBD di Provinsi dan Kota/Kabupaten menetapkan anggaran pendidikan 20 persen tak menyurutka kutipan-kutipan di SMA Negeri di Sumut.

Cara cara yang dinilai miris tak melambangkan lembaga pendidikan kerap dipertontonkan oleh para pemangku kebijakan di Sekolah-sekolah Negeri tingkat atas di Sumut.
Contohnya, kewajiban pungutan uang dari peserta didik atau orangtua/walinya berdalih bantuan sekolah yang terkesan dipaksa dibayar menjelang ujian dengan ancaman jika tak dibayar tak mendapatkan kartu ujian kerap terdengar di tengah gundah gulana masyarakat pasca diterpa pandemi covid 19 dan naiknya harga BBM saat ini.
Kejadian miris fenomena pungutan bermodus bantuan di SMA Negeri ini diterima kelompok media yang tergabung Serikat Media Siber Indonesia (SMSI) Asahan-Tanjung Balai, Kamis (22/9/2022). Orangtua peserta didik di SMAN 1 Kisaran mengaku anaknya dipungut uang sekolah Rp. 60.000 perbulan.
Orangtua peserta didik ini mengaku, jika pungutan tak dibayar anaknya tak akan mendapatkan kartu ujian dan dipastikan tak akan menjadi peserta ujian di sekolahnya. "Iya, besok ada pembayaran SPP di sekolah yang dibayarkan tiap bulan nya, paling lambat tanggal 10 tiap bulan nya, uang yang di kutip sebesar Rp 60.000 itu sudah saya kasih kepada anak saya untuk di bayarkan besok," kata nya.
Penelusuran media di SMAN 1 Kisaran dibenarkan beberapa sumber dari Peserta didik yang ditemui. "O, iya Pak, ini kita lagi bayar SPP untuk Bulan september, Tiap bulan di bayaran Rp 60.000," ucap nya.
Kepala SMAN 1 Kisaran, Ramlan SPd yang disambangi media pun mengakui kutipan itu. Namun dia berdalih nilainya bervariasi antara Rp.20.000,- sampai Rp.60.000. Alasannya klasik, Ramlan SPd mengaku, dana Bantuan Operasional Sekolah (BOS) tak mengcover pembayaran guru honor di sekolah itu.
"Memang betul kita ada melakukan pengutipan Uang SPP di sekolah, jumlah pengutipan besar nya Rp. 60.000 dan ini sudah di bicarakan ke Komite Sekolah. Benar, kita ada kutip uang SPP Kepada Siswa, tapi jumlah nya bervariasi, Bisa Rp. 60.000, Rp.40.000, Rp.35. 000 bahkan ada yang Rp 20.000," katanya mengakui.
Kejadian serupa juga terjadi di SMA Negeri 16 Medan di Jalan Kapten Rahmad Budin. Di sekolah ini para siswa diwajibkan membayar pungutan bermodus bantuan sekolah senilai Rp. 150.000,-.
Menurut sumber, kutipan uang sekolah ratusan ribu ini wajib dibayar menjelang ujian guna mengambil kartu. Jika tidak siap-siap peserta didik tak akan ikut ujian. Jika warga tak mampu, pihak sekolah hanya memberikan discount puluhan ribu aja perbulan.
beritaTerbaru